Welcome to our online store

Selasa, 30 Desember 2014

Biografi Imam Malik

Biografi Imam Malik

Dalam perjalanan sejarah Islam, kodifikasi hadits merupakan salah satu bagian terpenting yang berfungsi menjaga kemurnian agama. Selama 1400 tahun lebih, para ulama mempelajari teks hadits, berusaha mengenali orang-orang yang meriwayatkannya, menetapkan status keabsahan hadits, dan kemudian menyebarkannya ke tengah umat dengan lisan mereka atau melalui usaha pembukuan. Sebuah usaha yang tidak sederhana yang membedakan teks-teks syariat Islam dibanding dengan teks ajaran lainnya.

Salah seorang ulama yang memiliki jasa besar dalam perkembangan dan pembukuan hadis adalah imam besar umat ini yang berasal dari Kota Madinah, ia adalah Malik bin Anas rahimahullah. Beliau adalah orang pertama yang membukukan hadits dalam kitabnya al-Muwatta.

Mari sejenak mengenal seorang imam yang mulia ini…

Nasab dan Masa Pertumbuhannya

Beliau adalah Abu Abdullah, Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin al-Harits bin Ghuyman bin Khutsail bin Amr bin Harits. Ibunya adalah Aliyah bin Syarik al-Azdiyah. Keluarganya berasal dari Yaman, lalu pada masa Umar bin Khattab, sang kakek pindah ke Kota Madinah dan menimba ilmu dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsehingga menjadi salah seorang pembesar tabi’in.

Imam Malik dilahirkan di Kota Madinah 79 tahun setelah wafatnya Nabi kita Muhammad, tepatnya tahun 93 H. Tahun kelahirannya bersamaan dengan tahun wafatnya salah seorang sahabat Nabi yang paling panjang umurnya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Malik kecil tumbuh di lingkungan yang religius, kedua orang tuanya adalah murid dari sahabat-sahabat yang mulia. Pamannya adalah Nafi’, seorang periwayat hadis yang terpercaya, yang meriwayatkan hadis dari Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, dan sahabat-sahabat besar lainnya, radhiallahu ‘anhum. Dengan lingkungan keluarga yang utama seperti ini, Imam Malik dibesarkan.

Awalnya, saudara Imam Malik yang bernama Nadhar lebih dahulu darinya dalam mempelajari hadits-hadits Nabi. Nadhar mendatangi para ulama tabi’in untuk mendengar langsung hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari para sahabat. Kemudian Imam Malik pun mengikuti jejak saudaranya dalam mempelajari hadits. Beberapa waktu berlalu, Imam Malik melangkahi saudaranya dalam ilmu hadits. Kecemerlangannya semakin tampak karena Malik juga menguasai ilmu fiqh dan tafsir.

Perjalanan Menuntut Ilmu dan Menjadi Ulama Madinah

Ibu Imam Malik adalah orang yang paling berperan dalam memotivasi dan membimbingnya untuk memperoleh ilmu. Tidak hanya memilihkan guru-guru yang terbaik, sang ibu juga mengajarkan anaknya adab dalam belajar. Ibunya selalu memakaikannya pakaian yang terbaik dan merapikan imamah anaknya saat hendak pergi belajar. Ibunya mengatakan, “Pergilah kepada Rabi’ah, contohlah akhlaknya sebelum engkau mengambil ilmu darinya.”

Imam Malik belajar dari banyak guru, dan ia memilih guru-guru terbaik di zamannya agar banyak memperoleh manfaat dari mereka. Di antara pesan dari gurunya yang selalu beliau ingat adalah untuk tidak segan mengatakan “Saya tidak tahu” apabila benar-benar tidak mengetahu suatu permasalahan. Salah seorang guru beliau yang bernama Ibnu Harmaz berpesan, “Seorang yang berilmu harus mewarisi kepada murid-muridnya perkataan ‘aku tidak tahu’.

Setelah mempelajari ilmu-ilmu syariat secara komperhensif, Malik bin Anas mulai dikenal sebagai seorang yang paling berilmu di Kota Madinah. Beliau menyampaikan pelajaran di Masjid Nabawi, di tengah-tengah penuntut ilmu yang datang dari penjuru negeri.

Salah satu hal yang menarik dari kajian fiqih yang beliau sampaikan adalah penafsiran-penafsiran hadits dan pendapat-pendapat beliau banyak dipengaruhi oleh aktifitas yang dilakukan penduduk Madinah. Menurut Imam Malik, praktik-praktik yang dilakukan penduduk Madinah di masanya tidak jauh dari praktik masyarakat Madinah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penduduk Madinah juga mempelajari Islam dari para leluhur mereka dari kalangan para sahabat Nabi. Jadi kesimpulan beliau, apabila penduduk Madinah melakukan suatu amalan yang tidak bertentangan dengan Alquran dan sunnah, maka perbuatan tersebut dapat dijadikan sumber rujukan atau sumber hukum. Inilah yang membedakan Madzhab Imam Malik disbanding 3 madzhab lainnya.

Sifat dan Karakter Imam Malik

Dari segi fisik, Imam Malik dikarunia fisik yang istimewa; berwajah tampan dengan perawakan tinggi besar. Mush’ab bin Zubair mengatakan, “Malik termasuk seorang laki-laki yang berparas rupawan, matanya bagus (salah seorang muridnya mengisahkan bahwa bola mata beliau berwarna biru), kulitnya putih, dan badannya tinggi.” Abu Ashim mengatakan, “Aku tidak pernah melihat ahli hadits setampan Malik.”

Selain Allah karuniai fisik yang rupawan, Imam Malik juga memiliki kepribadian yang kokoh dan berwibawa. Orang-orang yang menghadiri majlis ilmu Imam Malik sangat merasakan wibawa imam besar ini. Tak ada seorang pun yang berani berbicara saat ia menyampaikan ilmu, bahkan ketika ada seorang yang baru datang lalu mengucapkan salam kepada majlis, jamaah hanya menjawab salam tersebut dengan suara lirih saja. Hal ini bukan karena Imam Malik seorang yang kaku, akan tetapi aura wibawanya begitu terasa bagi murid-muridnya. Demikian juga saat murid-muridnya berbicara dengannya, mereka merasa segan menatap wajahnya tatkala berbicara. Wibawa itu tidak hanya dirasakan oleh para penuntut ilmu, bahkan para khalifah pun menghormati dan mendengarkan nasihatnya.

Imam Syafii yang merupakan salah seorang murid Imam Malik menuturkan, “Ketika melihat Malik bin Anas, aku tidak pernah melihat seoarang lebih berwibawa dibanding dirinya.” Demikian juga penuturan Sa’ad bin Abi Maryam, “Aku tidak pernah melihat orang yang begitu berwibawa melebihi Malik bin Anas, bahkan wibawanya mengalahkan wibawa para penguasa.”

Imam Malik juga dikenal dengan semangatnya dalam mempelajari ilmu, kekuatan hafalan, dan dalam pemahamannya. Pernah beliau mendengar 30 hadits dari Ibnu Hisyam az-Zuhri, lalu ia ulangi hadits tersebut di hadapan gurunya, hanya satu hadits yang terlewat sedangkan 29 lainnya berhasil ia ulangi dengan sempurna. Imam Syafii mengatakan,

إذا جاء الحديث، فمالك النجم الثاقب

“Apabila disebutkan sebuah hadits, Malik adalah seorang bintang yang cerdas (menghafalnya pen.).

Imam Malik sangat tidak suka dengan orang-orang yang meremehkan ilmu. Apabila ada suatu permasalahan ditanyakan kepadanya, lalu ada yang mengatakan, ‘Itu permasalahan yang ringan.” Maka Imam Malik pun marah kepada orang tersebut, lalu mengatakan, “Tidak ada dalam pembahasan ilmu itu sesuatu yang ringan, Allah berfirman,

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzammil: 5)

Semua permasalahan agama itu adalah permasalahan yang berat, khususnya permasalahan yang akan ditanyakan di hari kiamat.”

Imam Malik juga seorang yang sangat perhatian dengan penampilannya dan ini adalah karakter yang ditanamkan ibunya sedari ia kecil. Pakaian yang ia kenakan selalu rapi, bersih, dan harum dengan parfumnya. Isa bin Amr mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang yang berkulit putih ataupun merah yang lebih tampan dari Malik. Dan juga ian seseorang yang lebih putih dari pakaiannya.” Banyak riwayat-riwayat dari para muridnya yang mengisahkan tentang bagusnya penampilan Imam Malik, terutama saat hendak mengajarkan hadits, namun satu riwayat di atas kiranya cukup untuk menggambarkan kebiasaan beliau.

Hendaknya demikianlah seorang muslim, terlebih seseorang yang memiliki pengetahuan agama. Seorang muslim harus berpenampilan rapi, bersih, dan jauh dari bau yang tidak sedap. Sering kita lihat saudara-saudara muslim yang dikenal sebagai orang yang taat, mereka berpenampilan lusuh, pakaian tidak rapi karena jarang distrika atau karena lama tidak diganti, dan keluar bau tidak sedap dari tubuh atau pakaiannya, ironisnya ini terkadang terjadi saat shalat berjamaah. Agama kita sangat menganjurkan kebersihan dan Allah mencintai keindahan.

Firasat Yang Tajam

Sering kita dapati ketika membaca biografi orang-orang shaleh bahwasanya mereka memiliki firasat yang tajam. Demikian juga dengan Imam Malik bin Anas rahimahullah. Imam Syafii mengisahkan tentang gurunya ini sebuah kisah yang menunjukkan kuatnya firasat sang guru. Kata Imam Syafii, “Ketika aku tiba di Madinah, aku bertemu dengan Malik, kemudian ia mendengarkan ucapanku. Ia memandangiku beberapa saat dan ia berfirasat tentangku. Setelah itu ia bertanya, ‘Siapa namamu?’ Kujawab, ‘Namaku Muhammad.’. Ia kembali berkata, ‘Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah, jauhilah perbuatan maksiat, karena aku melihat engkau akan mendapatkan suatu keadaan (menjadi orang besar "pen.).”

Wafatnya
Imam Malik rahimahullah wafat di Kota Madinah pada tahun 179 H/795 M dengan usia 85 tahun. Beliau dikuburkan di Baqi’. Semoga Allah merahmati Imam Malik dan menempatkannya di surganya yang penuh dengan kenikmatan.

Sumber: Islamstory.com

Oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com Add to Cart View detail

Biografi Imam Ahmad bin Hambal

Perjalanan Hidup Imam Ahmad bin Hanbal

Imam madzhab yang empat memiliki keistimewaan-keistimewaan yang saling melengkapi antara satu dan yang lainnya. Imam Abu Hanifah adalah pelopor dalam ilmu fikih dan membangun dasar-dasar dalam mempelajari fikih. Imam Malik adalah seorang guru besar hadits yang pertama kali menyusun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam satu buku. Imam Syafii merupakan ulama cerdas yang meletakkan rumus ilmu ushul fikih, sebuah rumusan yang membangun fikih itu sendiri.

Artikel ini akan mengenalkan kepada pembaca tokoh keempat dari imam-imam madzhab, dialah Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau adalah seorang ahli fikih sekaligus pakar hadits di zamannya. Perjuangan besarnya yang selalu dikenang sepanjang masa adalah perjuangan membela akidah yang benar. Sampai-sampai ada yang menyatakan, Imam Ahmad menyelamatkan umat Muhammad untuk kedua kalinya. Pertama, Abu Bakar menyelematkan akidah umat ketika Rasulullah wafat dan yang kedua Imam Ahmad lantang menyerukan akidah yang benar saat keyakinan sesat khalqu Alquran mulai dilazimkan.

Nasab dan Masa Kecilnya

Beliau adalah Abu Abdillah, Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani. Imam Ibnu al-Atsir mengatakan, “Tidak ada di kalangan Arab rumah yang lebih terhormat, yang ramah terhadap tetangganya, dan berakhlak yang mulia, daripada keluarga Syaiban.” Banyak orang besar yang terlahir dari kabilah Syaiban ini, di antara mereka ada yang menjadi panglima perang, ulama, dan sastrawan. Beliau adalah seorang Arab Adnaniyah, nasabnya bertemu denga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Imam Ahmad dilahirkan di ibu kota kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, Irak, pada tahun 164 H/780 M. Saat itu, Baghdad menjadi pusat peradaban dunia dimana para ahli dalam bidangnya masing-masing berkumpul untuk belajar ataupun mengajarkan ilmu. Dengan lingkungan keluarga yang memiliki tradisi menjadi orang besar, lalu tinggal di lingkungan pusat peradaban dunia, tentu saja menjadikan Imam Ahmad memiliki lingkungan yang sangat kondusif dan kesempatan yang besar untuk menjadi seorang yang besar pula.

Imam Ahmad berhasil menghafalkan Alquran secara sempurna saat berumur 10 tahun. Setelah itu ia baru memulai mempelajari hadits. Sama halnya seperti Imam Syafii, Imam Ahmad pun berasal dari keluarga yang kurang mampu dan ayahnya wafat saat Ahmad masih belia. Di usia remajanya, Imam Ahmad bekerja sebagai tukang pos untuk membantu perekonomian keluarga. Hal itu ia lakukan sambil membagi waktunya mempelajari ilmu dari tokoh-tokoh ulama hadits di Baghdad.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Guru pertama Ahmad bin Hanbal muda adalah murid senior dari Imam Abu Hanifah yakni Abu Yusuf al-Qadhi. Ia belajar dasar-dasar ilmu fikih, kaidah-kaidah ijtihad, dan metodologi kias dari Abu Yusuf. Setelah memahami prinsip-prinsip Madzhab Hanafi, Imam Ahmad mempelajari hadits dari seorang ahli hadits Baghdad, Haitsam bin Bishr.

Tidak cukup menimba ilmu dari ulama-ulama Baghdad, Imam Ahmad juga menempuh safar dalam mempelajari ilmu. Ia juga pergi mengunjungi kota-kota ilmu lainnya seperti Mekah, Madinah, Suriah, dan Yaman. Dalam perjalanan tersebut ia bertemu dengan Imam Syafii di Mekah, lalu ia manfaatkan kesempatan berharga tersebut untuk menimba ilmu dari beliau selama empat tahun. Imam Syafii mengajarkan pemuda Baghdad ini tidak hanya sekedar mengahfal hadits dan ilmu fikih, akan tetapi memahami hal-hal yang lebih mendalam dari hadits dan fikih tersebut.

Walaupun sangat menghormati dan menuntut ilmu kepada ulama-ulama Madzhab Hanafi dan Imam Syafii, namun Imam Ahmad memiliki arah pemikiran fikih tersendiri. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang tidak fanatik dan membuka diri.

Menjadi Seorang Ulama

Setelah belajar dengan Imam Syafii, Imam Ahmad mampu secara mandiri merumuskan pendapat sendiri dalam fikih. Imam Ahmad menjadi seorang ahli hadits sekaligus ahli fikih yang banyak dikunjungi oleh murid-murid dari berebagai penjuru negeri Islam. Terutama setelah Imam Syafii wafat di tahun 820, Imam Ahmad seolah-olah menjadi satu-satunya sumber rujukan utama bagi para penuntut ilmu yang senior maupun junior.

Dengan ketenarannya, Imam Ahmad tetap hidup sederhana dan menolak untuk masuk dalam kehidupan yang mewah. Beliau tetap rendah hati, menghindari hadiah-hadia terutama dari para tokoh politik. Beliau khawatir dengan menerima hadiah-hadiah tersebut menghalanginya untuk bebas dalam berpendapat dan berdakwah.

Abu Dawud mengatakan, “Majelis Imam Ahmad adalah majelis akhirat. Tidak pernah sedikit pun disebutkan perkara dunia di dalamnya. Dan aku sama sekali tidak pernah melihat Ahmad bin Hanbal menyebut perkara dunia.”

Masa-masa Penuh Cobaan

Pada tahun 813-833, dunia Islam dipimpin oleh Khalifah al-Makmun, seorang khalifah yang terpengaruh pemikiran Mu’tazilah. Filsafat Mu’tazilah memperjuangkan peran rasionalisme dalam semua aspek kehidupan, termasuk teologi. Dengan demikian, umat Islam tidak boleh hanya mengandalkan Alquran dan sunnah untuk memahami Allah, mereka diharuskan mengandalkan cara filosofis yang pertama kali dikembangkan oleh orang Yunani Kuno. Di antara pokok keyakinan Mu’tazilah ini adalah bahwa meyakini bahwa Alquran adalah sebuah buku dibuat, artinya Alquran itu adalah makhluk bukan kalamullah.

Al-Makmun percaya pada garis utama pemikiran Mu’tazilah ini, dan ia berusaha memaksakan keyakinan baru dan berbahaya tersebut kepada semua orang di kerajaannya –termasuk para ulama. Banyak ulama berpura-pura untuk menerima ide-ide Mu’tazilah demi menghindari penganiayaan, berbeda halnya dengan Imam Ahmad, beliau dengan tegas menolak untuk berkompromi dengan keyakinan sesat tersebut.

Al-Makmun melembagakan sebuah inkuisisi (lembaga penyiksaan) dikenal sebagai Mihna. Setiap ulama yang menolak untuk menerima ide-ide Muktazilah dianiaya dan dihukum dengan keras. Imam Ahmad, sebagai ulama paling terkenal di Baghdad, dibawa ke hadapan al-Makmun dan diperintahkan untuk meninggalkan keyakinan Islam fundamentalnya mengenai teologi. Ketika ia menolak, ia disiksa dan dipenjarakan. Penyiksaan yang dilakukan pihak pemerintah saat itu sangatlah parah. Orang-orang yang menyaksikan penyiksaan berkomentar bahwa bahkan gajah pun tidak akab bisa bertahan jika disiksa sebagaimana Imam Ahmad disiksa. Diriwayatkan karena keras siksaannya, beberapa kali mengalami pingsan.

Meskipun demikian, Imam Ahmad tetap memegang teguh keyakinannya, memperjuangkan akidah yang benar, yang demikian benar-benar menginspirasi umat Islam lainnya di seluruh wilayah Daulah Abbasiah. Apa yang dilakukan Imam Ahmad menunjukkan bahwa umat Islam tidak akan mengorbankan akidah mereka demi menyenangkan otoritas politik yang berkuasa. Pada akhirnya, Imam Ahmad hidup lebih lama dari al-Makmun dan Khalifah al-Mutawakkil mengakhiri Mihna pada tahun 847 M. Imam Ahmad dibebaskan, beliau pun kembali diperkenankan mengajar dan berceramah di Kota Baghdad. Saat itulah kitab Musnad Ahmad bin Hanbal yang terkenal itu ditulis.

Wafatnya Imam Ahmad

Imam Ahmad wafat di Baghdad pada tahun 855 M. Banan bin Ahmad al-Qashbani yang menghadiri pemakaman Imam Ahmad bercerita, “Jumlah laki-laki yang mengantarkan jenazah Imam Ahmad berjumlah 800.000 orang dan 60.000 orang wanita .”

Warisan Imam Ahmad yang tidak hanya terbatas pada permasalahn fikih yang ia hasilkan, atau hanya sejumlah hadits yang telah ia susun, namun beliau juga memiliki peran penting dalam melestarikan kesucian keyakinan Islam dalam menghadapi penganiayaan politik yang sangat intens. Kiranya inilah yang membedakan Imam Ahmad dari ketiga imam lainnya.

Selain itu, meskipun secara historis Madzhab Hanbali adalah madzhab termuda dalam empat madzhab yang ada, banyak ulama besar sepanjang sejarah Islam yang sangat terpengaruh oleh Imam Ahmad dan pemikirannya, seperti: Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim, Ibnu Katsir, dan Muhammad bin Abd al-Wahhab.

Semoga Allah Ta’ala menerima amalan Imam Ahmad bin Hanbal dan menempatkannya di surge yang penuh kenikmatan.

Sumber:
– Islamstory.com
– Lostislamichistory.com

Oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com Add to Cart View detail

Biografi Imam Abu Hanifah


Semakin jauh dari masa Rasulullah dan semakin luas daerah-daerah yang mengenal Islam, semakin luas pula perkembangan ilmu keislaman. Perkembangan di sini diartikan dalam hal yang positif bukan perkembangan yang keluar dari garis besar tuntunan Islam. Misalnya, dahulu di zaman Rasulullah dan sahabatnya, huruf-huruf Alquran ditulis dengan tanpa menggunakan harokat dan tanda titik. Setelah orang-orang non-Arab mengenal Islam, penulisan huruf-huruf Alquran lebih disederhanakan dengan menambahkan titik pada huruf-huruf yang hampir sama, lalu di masa berikutnya ditambahkan harokat. Yang demikian dimaksudkan agar orang-orang non-Arab mudah membacanya.

Demikian juga dalam permasalahan agama secara umum, para sahabat dimudahkan dalam memahami Islam karena mereka bisa bertanya langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in bisa bertanya kepada para sahabat. Adapun orang-orang setelah mereka, dengan penyebaran Islam yang luas membutuhkan penyederhanaan yang lebih mudah dipahami oleh akal pikiran mereka. Orang pertama yang melakukan usaha besar menyederhanakan permasalahan ini adalah seorang imam besar yang kita kenal dengan Imam Abu Hanifahrahimahullah. Beliau menyusun kajian fikih dan mengembangkannya demi kemudahan umat Islam.

Kelahiran dan Masa Kecilnya

Sebagaimana orang-orang lebih mengenal Imam Syafii daripada nama aslinya yaitu Muhammad bin Idris, jarang juga orang yang tahu bahwa nama Imam Abu Hanifah adalah Nu’man bin Tsabit bin Marzuban, kun-yahnya Abu Hanifah. Ia adalah putra dari keluarga Persia (bukan orang Arab). Asalnya dari Kota Kabul (ibu kota Afganistan sekarang). Kakeknya, Marzuban, memeluk Islam di masa Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, lalu hijrah dan menetap di Kufah.

Imam Abu Hanifah dilahirkan di Kufah pada tahun 699 M. Ayahnya, Nu’man, adalah seorang pebisnis yang sukses di Kota Kufah, tidak heran kita mengenal Imam Abu Hanifah sebagai seorang pebisnis yang sukses pula mengikuti jejak sang ayah. Jadi, beliau tumbuh di dalam keluarga yang shaleh dan kaya. Di tengah tekanan peraturan yang represif yang diterapkan gubernur Irak Hajjaj bin Yusuf, Imam Abu Hanifah tetap menjalankan bisnisnya menjual sutra dan pakaian-pakaian lainnya sambil mempelajari ilmu agama.

Memulai Belajar

Sebagaimana kebiasaan orang-orang shaleh lainnya, Abu Hanifah juga telah menghafal Alquran sedari kecil. Di masa remaja, Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit mulai menekuni belajar agama dari ulama-ulama terkemuka di Kota Kufah. Ia sempat berjumpa dengan sembilan atau sepuluh orang sahabat Nabi semisal Anas bin Malik, Sahl bin Sa’d, Jabir bin Abdullah, dll.

Saat berusia 16 tahun, Abu Hanifah pergi dari Kufah menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Madinah al-Munawwaroh. Dalam perjalanan ini, ia berguru kepada tokoh tabi’in, Atha bin Abi Rabah, yang merupakan ulama terbaik di kota Mekah.

Jumlah guru Imam Abu Hanifah adalah sebanyak 4000 orang guru. Di antaranya 7 orang dari sahabat Nabi, 93 orang dari kalangan tabi’in, dan sisanya dari kalangan tabi’ at-tabi’in. Jumlah guru yang demikian banyak tidaklah membuat kita heran karena beliau banyak menempuh perjalanan dan berkunjung ke berbagai kota demi memperoleh ilmu agama. Beliau menunaikan haji sebanyak 55 kali, pada musim haji para ulama berkumpul di Masjidil Haram menunaikan haji atau untuk berdakwah kepada kaum muslimin yang datang dari berbagai penjuru negeri.

Seorang Ulama Berpengaruh

Imam Abu Hanifah menciptakan suatu metode dalam berijtihad dengan cara melemparkan suatu permasalahan dalam suatu forum, kemudian ia mengungkapkan pendapatnya beserta argumentasinya. Imam Abu Hanifah akan membela pendapatnya di forum tersebut dengan menggunakan dalil dari Alquran dan sunnah ataupun dengan logikanya. Diskusi bisa berlangsung seharian dalam menuntaskan suatu permasalahan. Inilah metode Imam Abu Hanifah yang dikenal dengan metode yang sangat mengoptimalkan logika.

Metode ini dianggap sangat efektif untuk merangsang logika para murid Imam Abu Hanifah sehingga mereka terbiasa berijtihad. Para murid juga melihat begitu cerdasnya Imam Abu Hanifah dan keutamaan ilmu beliau. Dari majlis beliau lahirlah ulama-ulama besar semisal Abu Yusuf, Muhammad asy-Syaibani, az-Zuffar, dll. dan majlis beliau menjadi sebuah metode dalam kerangka ilmu fikih yang dikenal dengan Madzhab Hanafi dan membuah sebuah kitab yang istimewa, al-Fiqh al-Akbar.

Imam Abu Hanifah beberapa kali ditawari untuk memegang jabatan menjadi seorang hakim di Kufa, namun tawaran tersebut senantiasa beliau tolak. Hal inilah di antara yang menyebabkan beliau dipenjara oleh otoritas Umayyah dan Abbasiah.

Wafatnya

Imam Abu Hanifah wafat di Kota Baghdad pada tahun 150 H/767 M. Imam Ibnu Katsir mengatakan, “6 kelompok besar Penduduk Baghdad menyolatkan jenazah beliau secara bergantian. Hal itu dikarenakan banyaknya orang yang hendak menyolatkan jenazah beliau.”

Di masa Turki Utsmani, sebuah masjid di Baghdad yang dirancang oleh Mimar Sinan didedikasikan untuk beliau. Masjid tersebut dinamai Masjid Imam Abu Hanifah.

Sepeninggal beliau, madzhab fikihnya tidak redup dan terus dipakai oleh umat Islam, bahkan menjadi madzhab resmi beberapa kerajaan Islam seperti Daulah Abbasiyah, Mughal, dan Turki Utsmani. Saat ini madzhab beliau banyak dipakai di daerah Turki, Suriah, Irak, Balkan, Mesir, dan India.

Peta penyebaran madzhab Imam yang empat.
Add to Cart View detail

Hidayah dari Sebuah Warung Kopi

Hidayah dari Sebuah Warung Kopi

Dalam suatu majelisnya, Syaikh Utsman al-Khomis ditanya, “Hal apakah yang bisa menjadi sebab datangnya hidayah dan keistiqomahan pada seseorang?” Beliau menjawab, “Sangat banyak hal yang bisa mendatangkan hidayah. Di antaranya beliau bercerita tentang seorang pemuda Libiya yang diberi hadiah buku saku tentang dzikir oleh seorang pemuda dari Arab Saudi”. Kurang lebih, cerita beliau adalah sebagai berikut:

Ada seorang warga Libia, ia bersama ibu dan seorang saudari perempuannya pindah dari Libia untuk menetap di London. Ia mengatakan, di antara kami bertiga hanya ibuku saja yang shalat. Aku dan saudariku tidak shalat bahkan tidak mengerti shalat.

Suatu hari, aku datang di suatu kedai kopi, aku berkenalan dengan seorang laki-laki dari Arab Saudi. Di akhir perjumpaan, dia memberiku sebuah buku saku tentang dzikir. Aku merasa pemberiannya ini tidak bermanfaat sama sekali, shalat saja aku tidak, apalagi membaca dzikir. Tapi karena merasa tidak enak menolak, aku pun menerima pemberiannya dan kusimpan di saku baju. Sesampainya di rumah, kukeluarkan dari saku bajuku buku yang ia berikan, lalu kulemparkan hingga terperosok di bawah lemariku.

Setelah beberapa hari, di suatu malam, seperti biasa aku pulang dari aktivitas lalu aku menonton televisi. Aku mencari acara yang menarik di TV, dari chanel ke chanel lainnya namun tidak ada acara yang membuat aku tertarik. Lalu kubuka majalah, tidak juga aku merasa berselera berlama-lama membacanya. Setelah itu berselancar di dunia maya, juga tidak ada yang memikat perhatianku. Sudah, kututup pintu kamar dan tirai jendela, aku pun bersiap tidur.

Kubolak-balikkan badan, namun tidak juga rasa kantuk itu datang. Malah aku teringat akan buku saku yang diberikan laki-laki Arab Saudi tempo hari itu. Susah payah, akhirnya aku berhasil mengeluarkan buku itu dari bawah kolong lemariku.

Saat kubuka buku itu, ternyata berisi, barangsiapa mengamalkan ini akan mendapatkan hal ini, barangsiapa mengamalkan demikian maka pahalanya demikian. Saat itu, kondisi jiwaku adalah kondisi seseorang yang telah berputus asa dari rahmat Allah karena banyaknya dosa-dosa yang telah aku lakukan. Aku adalah seseorang yang telah berpasrah diri kalau ditetapkan sebagai penghuni neraka. Saat kubaca buku itu, ternyata pengampunan dosa dari Allah demikian mudahnya. Buku itu benar-benar memberikan kesan yang dalam bagi diriku. Hingga tak terasa aku membacanya hingga datang waktu subuh.

Saat itu kulihat ibuku sedang menunaikan shalat. Selesainya ibuku dari shalat, kukatakan kepadanya, “Ibu, aku ingin shalat”. Ibuku menjawab, “Mandilah terlebih dahulu”. Aku pun mandi kemudian menunaikan shalat. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi meninggalkan shalat.

Diceritakan kepada Syaikh Utsman al-Khomis bahwa orang ini kemudian menjadi seorang da’i yang cukup dikenal di London. Ia sangat bersemangat dalam berdakwah hingga mendakwahkan Islam di jalan-jalan ketika berjumpa dengan orang-orang non-Islam. Dan banyak orang mendapatkan hidayah Islam melalui dirinya.

Pelajaran:
  1. Jangan remehkan hadiah sekecil apapun.
  2. Jangan memvonis seseorang sudah tertutup darinya hidayah.
  3. Biasakanlah memberi hadiah-hadiah yang bermanfaat kepada orang-orang untuk melembutkan hati mereka menerima dakwah.
  4. Seseorang dengan profesinya masing-masing bisa memberikan hadiah. Seorang dosen bisa memberikan buku-buku bermanfaat kepada mahasiswanya karena nilai ujiannya yang baik atau lain sebagainya. Seorang pengusaha bisa memberikan hadiah kepada relasinya saat di awal jumpa. Seorang teman memberikan hadiah kepada temannya. Dll. Mungkin akan datang suatu hari, Allah bukakan kebaikan bagi mereka yang diberi hadiah tersebut.
  5. Berdakwah bisa dilakukan dimana saja, sampai berjumpa dengan seseorang di sebuah warung kopi pun adalah kesempatan untuk berdakwah.
http://kisahmuslim.com/
Add to Cart View detail

Waktu tepat memulai bisnis


Kapan waktu yang tepat untuk memulai usaha? Ada yang mengatakan, waktu yang tepat untuk berbisnis adalah “lima tahun yang lalu” sehingga kini Anda sudah merasakan buah dari usaha Anda.

Namun, jika Anda merasa dihinggapi penyesalan karena tidak dari dulu berbisnis, maka Anda dapat memulai usaha Anda sekarang. Lalu, bagaimana mempersiapkan diri Anda jika Anda harus memulai usaha dari sekarang?

Jika Anda menyesal kenapa tidak dari dulu berbisnis, kenapa tidak mulai dari sekarang?

Pertama, buatlah tujuan bisnis serinci mungkin.
Tujuan berbisnis membantu Anda menemukan apa yang ingin Anda dapatkan ketika menjalankan bisnis. Tujuan yang baik akan membuat Anda menjadi pengusaha sukses, tapi tujuan yang tidak jelas malah menjadi awal dari kehancuran bisnis Anda. Sebaiknya, dalam mendirikan sebuah bisnis, janganlah bercita-cita untuk mencari kekayaan dan kekuasaan semata atau sekadar merasakan menjadi bos. Akan tetapi, upayakan agar bisnis yang Anda jalani dapat membawa manfaat yang positif bagi Anda dan orang di sekitar Anda.

Kedua, tulislah semua ide usaha Anda.

Ide kadang muncul tak terduga, karena itu, segeralah catat ide tersebut. Namun, berilah batasan waktu dalam menuliskan ide-ide tersebut. Ide yang baik adalah ide yang dapat direalisasikan.

Ketiga, mensortir ide.

Buatlah ranking semua ide yang sudah Anda tuliskan berdasarkan ide mana yang dapat diwujudkan dalam waktu dekat. Susun skala prioritas dan pilihlah satu ide untuk diwujudkan. Kesuksesan itu tergantung dari usaha kita yang terus-menerus mewujudkannya.

Keempat, rancang action plan.

Buatlah rencana aksi secara rinci untuk membangun sebuah usaha. Susun rencana, target, dan strategi sesuai dengan rentang waktu yang Anda inginkan sehingga dapat membantu Anda dalam menelusuri seberapa besar kegigihan Anda.

Kelima, mulai bergerak.

Jika semua langkah sudah Anda lakukan, perencanaan dan strategi sudah disusun, sekaranglah saatnya Anda mewujudkan ide usaha Anda. Lakukanlah sesuai dengan rencana aksi yang sudah Anda susun. Bila Anda mengalami kegagalan atau kesulitan, jangan pernah menyerah, revisilah tujuan Anda dan mulailah bersemangat kembali.

Jadi, tunggu apalagi? Ayo bergerak!

(***)

Sumber: berbagai sumber

Ingin tahu bgm cara saya menjadikan Internet sebagai sumber income baru dan ingin belajar dengan dipandu langsung oleh Guru Internet Marketing saya?

Pilih salah satu tema internet marketing sesuai dengan kebutuhan Anda.

1. Bagaimana cara mendapatkan pasif income jutaan rupiah/bulan dg menjual jasa (hobi&keahlian) secara online - > klik di Sini!

2. Bagaimana cara berjualan produk fisik secara online dengan omset ratusan juta rupiah setiap bulan -> klik di Sini!

3. Bagaimana cara mendapatkan ribuan dollar dengan mempromosikan produk milik orang lain di clickbank -> klik di Sini!


Add to Cart View detail

Tips Melihat Peluang Usaha


Banyak orang yang ingin berwira-usaha, ada yang sudah siap modal dan perencanaan yang njlimet, ada yang baru sekedar gagasan aja. Namun, ada yang punya uang tapi bingung mau ngapain, dan mulai dari mana. Banyak usahawan sukses karena kelihaian dalam memulai dan memperluas usaha.

Berikut 14 cara yang sering mereka pakai, dan berhasil atau tidaknya tergantung upaya dan do’a kita. Meski begitu, ini bisa di jadikan wacana alternatif sebelum memulai usaha, dan menjadikannya refrensi:

1. Penuhi Kebutuhan Konsumen

Ini merupakan cara buka usaha yang paling umum. Jika di sekitar rumah ada yang butuh jasa binatu, warnet, lauk matang, rental computer, kursus, dll, buka usaha sesuai kebutuhan mereka. Kuncinya, penuhi kebutuhan konsumen, lalu berikan produk dan layanan terbaik. Usaha berdasarkan kebutuhan adalah prinsip semua jenis usaha.

2. Jual Keunikan

Jika kita lumayan kreatif dan inovatif, pasti banyak hal yang bisa di kreasikan. Banyak usaha baru dimulai dari penemuan produk baru, teknologi, system, dan program baru. Bahkan menulis buku dengan ide-ide baru pun bisa di perhitungkan, dan banyak yang sukses di jalan ini. Penemuan baru apalagi khas dan unik, sangat berpeluang menembus pasar.

3. Duplikasi Usaha Lain

Bagi mereka yang kurang kreatif dan inovatif, jangan patah arang. Terkadang ide usaha tersebar dimana-mana, bahkan mungkin didepan mata kita. Kita hanya perlu membaca peluang, mengukur potensi, dan mengambil resiko. Misalnya, disekitar rumah kita karena dekat dengan kampus ada tukang foto kopi yang laris, apa salahnya menyaingi usaha tersebut, tinggal memberikan nilai lebih dari usaha kita.

4. Beri Fasilitas Tambahan
Mirip cara sebelumnya, hanya saja diperlukan sedikit kreatifitas. Misalnya jika ingin membuka usaha warung sembako, berikan penawaran harga yang kompetitif dan tempat yang nyaman untuk pembeli bercengkrama dengan pembeli lain, sehingga pembeli betah berlama-lama belanja di took kita, dan sediakan juga snack dan minuman ringan, wih lengkap deh..

5. Jual Keterampilan
Jeli mengenali bakat orang, itu pun bisa menjadi bisnis yang menantang. Banyak orang berbakat yang jika di kembangkan dan diberikan tempat bisa dijual mahal. Tempat-tempat seperti restoran, toko-toko, salon, kursus, servis, mal, dan pasar adalah gudangnya orang berbakat. Ambil 2-3 orang pemangkas rambut dari salon-salon kecil, sewakan tempat yang bagus, alat yang lengkap, brand khusus, dan training mengenai pelayanan yang baik. Maka usaha salon eksklusif sudah bisa dimiliki.

6. Jadi Agen

Mirip dengan sebelumnya, misalnya membuka agen modeling, agen tenaga kerja, pembantu rumah tangga, pengisi acara hiburan, pernikahan, dll. Untuk usaha ini diperlukan pengalaman dan relasi yang luas. Tapi tak perlu khawatir, untuk hal ini juga bisa pekerjakan orang yang berpengalaman dibidang tersebut.

7. Jual Barang Second

Masih sedikit orang yang peka dengan jenis usaha ini. Barang second dengan nilai historis tertentu bisa punya harga tinggi. Untuk memulai bisa dengan berburu barang-barang bermerk asli yang sudah tidak terpakai lagi, dan menjualnya ditempat lain dengan harga special. Banyak ekspatriat, selebritis, pengusaha, sampai jendral yang memiliki selera berpakaian tinggi, kita bisa membeli koleksinya yang sudah tidak terpakai, sukur-sukur kalau gratis, he..he..

8. Buka Kantor

Misalnya untuk akuntan, dokter, pengacara, notaries, desainer, trainer ataupun konsultan. Dengan mengajak kolega dan teman seprofesi bisa diajak patungan untuk membuka kantor sendiri. Juallah skill dan pengalaman. Jika reputasi bagus, jaringan luas, jangan takut kekurangan klien.

9. Beli Waralaba
Yang modalnya lumayan besar, dan tidak mau memikirkan produk sendiri, bisa memilih membeli franchise (waralaba). Butuh kejelian membaca waralaba mana yang bagus, berikut kemampuan membaca potensi pasarnya. Kini banyak pilihan waralaba, dengan modal besar atau sedang-sedang saja.

http://www.smartbisnis.co.id/

Ingin tahu bgm cara saya menjadikan Internet sebagai sumber income baru dan ingin belajar dengan dipandu langsung oleh Guru Internet Marketing saya?

Pilih salah satu tema internet marketing sesuai dengan kebutuhan Anda.

1. Bagaimana cara mendapatkan pasif income jutaan rupiah/bulan dg menjual jasa (hobi&keahlian) secara online - > klik di Sini!

2. Bagaimana cara berjualan produk fisik secara online dengan omset ratusan juta rupiah setiap bulan -> klik di Sini!

3. Bagaimana cara mendapatkan ribuan dollar dengan mempromosikan produk milik orang lain di clickbank -> klik di Sini!
Add to Cart View detail

Sepuluh Kepribadian Billionaire

Sepuluh Kepribadian Billionaire

Satu, keberanian untuk berinisiatif.

Di sinilah letak keunikan utama pengusaha kelas kakap dunia. Mereka selalu punya ide-ide jenial. Sebagai contoh, lihat saja si Raja Real Estate, kebangkitannya dari bangkrut beberapa tahun yang lalu sekarang sudah membuahkan lebih dari sekedar kerajaan properti belaka. Ada boneka Donald, ada seri TV The Apprentice, ada online university TrumpUniversity.com, bahkan ada t-shirt "You"re Fired" dan buku-buku best-sellernya. Semua berangkat dari inisiatif belaka, yang bisa kita pelajari dan tiru.

Dua, tepat waktu.

Selalu menepati janji dan tepat waktu karena ini adalah bukti kemampuan memanage sesuatu yang paling terbatas di dalam hidup kita, yaitu waktu. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis. Respek terhadap waktu merupakan pencerminan dari respek terhadap diri sendiri dan partner bisnis.

Tiga, senang melayani dan memberi.

Seorang billionaire pasti mempunyai kepribadian sebagai pemimpin dan seorang pemimpin adalah pelayan dan pemberi. The more you give to others, the more respect you get in return. Syukur-syukur kalau ada karma baik sehingga mendapat kebaikan juga dari orang lain. Paling tidak dengan memberi dan melayani, kita sudah menunjukkan kepada dunia betapa berlimpahnya kita. Alam bawah sadar kita akan terus membentuk blue print sukses berdasarkan kemampuan memberi ini.

Empat, membuka diri terlebih dahulu.

Pernah Anda bertemu orang yang selalu mau bertanya soal hal-hal pribadi tentang orang lain namun tidak pernah mau membuka diri? Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, yang pasti mereka akan sangat sulit untuk mencapai kesuksesan karena dua hal ini adalah lawan dari unsur-unsur yang membangun sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, sesuatu yang dicari oleh para partner bisnis sejati. (Siapa yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius?)

Lima, senang bekerja sama dan membina hubungan baik dengan para partner bisnis.
Teamwork jelas adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Donald Trump dan Martha Stewart pun mempunyai tim-tim mereka yang sangat loyal sehingga mereka bisa mencapai sukses luar biasa. "No man is an island," kita semua perlu membangun network kerja yang baik, sehingga jalan menuju sukses semakin terbuka lebar.

Enam, senang mempelajari hal-hal baru.

Kembali kita mengambil contoh Pak Trump yang baru saja membuka online university. Apakah beliau adalah ahli pendidikan? Seorang profesor? Jelas tidak, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta langsung mengaplikasikannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas baginya. Dunia bisnis baginya adalah tempat bermain yang luas dan tidak terbatas. Kuncinya hanya satu: senang belajar dan mencari hal-hal baru.

Tujuh, jarang mengeluh.

Profesionalisme adalah yang paling utama. Lance Armstrong pernah berkata, "There are two kinds of days: good days and great days." Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang sangat baik. Jangan sekali-kali mengeluh di dalam bisnis, walaupun suatu hari mungkin Anda akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali gagal adalah kesempatan untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana Anda gagal tetap adalah a good day (hari yang baik).

Delapan, berani menanggung resiko.

Jelas, tanpa ini tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju sukses. Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak disadari penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great day (lihat di atas). So, untuk apa takut? Kegagalan pun hanyalah kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari kan?

Sembilan, tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap saat).

Berpikir positif adalah environment atau default state di mana keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini (kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar kemungkinannya.

Sepuluh, "comfortable in their own skin"

Alias nyaman dengan diri sendiri tanpa perlu berusaha menutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak "lebih" dari lawan bicaranya. Pernah bertemu dengan billionaire yang rendah diri alias tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Saya yakin tidak ada. Kenyamanan menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain.

Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka merasa tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri sendiri.

Apakah Anda mempunyai kepribadian seorang billionaire? Hanya Anda yang bisa menjawab. Salam sukses, sampai bertemu di puncak gunung kesuksesan.

Sumber : Sepuluh Unsur Kepribadian Billionaire oleh Jennie S. Bev.

Jennie S. Bev adalah konsultan, entrepreneur, penulis dan edukator berbasis di San Francisco Bay Area.

Ingin tahu bgm cara saya menjadikan Internet sebagai sumber income baru dan ingin belajar dengan dipandu langsung oleh Guru Internet Marketing saya?

Pilih salah satu tema internet marketing sesuai dengan kebutuhan Anda.

1. Bagaimana cara mendapatkan pasif income jutaan rupiah/bulan dg menjual jasa (hobi&keahlian) secara online - > klik di Sini!

2. Bagaimana cara berjualan produk fisik secara online dengan omset ratusan juta rupiah setiap bulan -> klik di Sini!

3. Bagaimana cara mendapatkan ribuan dollar dengan mempromosikan produk milik orang lain di clickbank -> klik di Sini!
Add to Cart View detail

Tidak Amanah Dalam Melunasi Utang

Tidak Amanah Dalam Melunasi Utang

Sebagian pengusaha punya prinsip untuk banyak-banyak menumpuk utang. Di antara alasannya: demi mengembangkan usaha atau mencari modal usaha. Masalahnya, bukan karena meminjam uang. Yang menjadi masalah adalah sering kali peminjam kurang amanah dalam mengembalikan utang. Sebenarnya, mereka mampu mengembalikan utang tepat waktu, sesuai time limit yang diberikan oleh pemberi utang. Namun, selalu seribu alasan yang diberi ketika si pemberi utang datang menagih.

Katanya, besoklah, bulan depanlah, dan seterusnya. Padahal, ia mampu mengembalikan utang tersebut sesuai tempo yang diberikan. Namun, ia mesti "memutar" utang tadi untuk modal usaha lainnya. Itulah jadinya, utang tersebut belum kunjung kembali ke tangan kreditor. Bahkan, yang memiliki sifat tidak amanah seperti ini adalah orang yang sudah kenal sunah, lebih mendalami Islam. Amat disayangkan, mungkin status si kreditor sebagai pengusaha muslim selalu dijadikan alasan bahwa ia pasti berbaik hati, “'Kan pengusaha muslim. Tentu mau saja memberi tenggang waktu untuk pengembalian utang.”

Ingat bahaya berutang!

Untuk setiap orang yang berutang, seharusnya, mengingat bahaya banyak berutang berikut ini.

1. Akan menyusahkan dirinya di akhirat kelak.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham, utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (H.R. Ibnu Majah, no. 2414; Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)

2. Jiwanya masih menggantung hingga utangnya lunas.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (H.R. Tirmidzi, no. 1078 dan Ibnu Majah, no. 2413; Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)

Al-‘Iraqi mengatakan, “'Urusannya masih menggantung' artinya 'tidak bisa kita katakan bahwa ia selamat ataukah sengsara, sampai utangnya tersebut dilihat, lunas ataukah tidak'.” (Tuhfatul Ahwadzi, 3:142).

Asy-Syaukani berkata, “Hadis ini adalah dorongan agar ahli waris segera melunasi utang orang yang sudah meninggal tersebut. Hadis ini sebagai berita bagi mereka bahwa status orang yang berutang masih menggantung disebabkan oleh utangnya, sampai utang tersebut lunas. Ancaman dalam hadis ini ditujukan bagi orang yang memiliki harta untuk melunasi utangnya, namun ia tidak melunasinya. Adapun orang yang tidak memiliki harta dan sudah bertekad ingin melunasi utangnya maka ia akan mendapat pertolongan Allah untuk memutihkan utangnya tadi, sebagaimana hal ini diterangkan dalam beberapa hadis.” (Nailul Authar, 6:114)

Penjelasan Asy-Syaukani menunjukkan ancaman bagi orang yang mampu melunasi utang namun ia bersikap tidak amanah. Ia mampu melunasinya tepat waktu, namun tidak juga dia lunasi. Bahkan, seringkali, ia menyusahkan kreditor. Padahal, si kreditor sudah berbaik hati meminjamkan uang tanpa adanya bunga, dan mungkin saja si kreditor membutuhkan pelunasan utang tersebut sesegera mungkin.

3. Diberi status sebagai "pencuri", jika berniat tidak ingin mengembalikan utang.

Dari Shuhaib Al-Khair, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang berutang lalu berniat tidak mau melunasinya, dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (H.R. Ibnu Majah no. 2410. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan-sahih). Al-Munawi mengatakan, “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.” (Faidul Qadir, 3:181)

4. Berutang sering mengantarkan pada banyak dusta.

Dari ‘Urwah dari ‘Aisyah, "Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa di dalam shalat, 'Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghram (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan banyak utang).'” Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari utang?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Jika orang yang berutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (H.R. Bukhari, no. 2397 dan Muslim, no. 589)

Al-Muhallab mengatakan, “Dalam hadis ini terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berlindung dari utang, dan utang sendiri dapat mengantarkan kepada dusta.” (Syarh Al-Bukhari, Ibnu Baththal, 12:37)

Realita yang ada itulah sebagai bukti. Orang yang berutang sering kali berdusta ketika pihak kreditor datang menagih, “Kapan akan kembalikan utang?” “Besok, bulan depan,” sebagai jawaban. Padahal, itu hanyalah dusta, dan ia sendiri enggan melunasinya.

Jika mampu mengembalikan utang, segeralah tunaikan

Jika sudah mengetahui bahaya di atas maka tentu saja kita harus bersikap amanah. Jika mampu melunasi utang, segeralah lunasi. Kita tidak tahu kapan nafas kita berakhir. Barangkali, ketika kita mati, malah utang-utang kita yang sekian banyak belum juga terlunasi. Sungguh, nantinya keadaan seperti ini akan menyusahkan diri kita sendiri. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya, yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar utang.” (H.R. Bukhari, no. 2393)

Sudah berniat melunasi utang dan sekeras tenaga berusaha untuk melunasinya, itu pun sudah termasuk sikap yang baik. Allah akan menolong orang semacam ini dalam urusannya.

Dahulu, Maimunah ingin berutang. Lalu, di antara kerabatnya, ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu, Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya, aku mendengar Nabi dan khalil-ku (kekasihku) shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki utang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, Allah akan memudahkannya untuk melunasi utang tersebut di dunia.” (H.R. Ibnu Majah, no. 2399 dan An-Nasai, no. 4686; Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih kecuali lafal "fid-dunya" [di dunia])

Juga terdapat hadis dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Allah akan bersama (memberi pertolongan kepada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut, selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (H.R. Ibnu Majah, no. 2400; Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih). Moga pertolongan Allah segera datang jika kita benar-benar dan berusaha keras melunasi utang-utang kita.

Salah memosisikan dalil

Sikap orang yang berutang, seharusnya, segera melunasi utangnya. Jangan malah memiliki sikap sebaliknya, yaitu beranggapan bahwa pemberi utang yang baik pasti akan memberi tenggang waktu. Barangkali, ini dalil yang sering digunakan, “Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah:280)

Dalilnya memang benar, namun salah diletakkan. Dalil ini ditujukan bagi pihak pemberi utang agar memiliki sikap yang baik dengan memberi tenggang waktu jika orang yang berutang berada dalam kesulitan, atau bahkan, lebih baik memutihkan utang tersebut. Dengan demikian, dalil di atas bukanlah untuknya. Seharusnya, yang jadi dalil baginya adalah dalil-dalil yang menyebutkan bahaya berutang, sebagaimana disebutkan di atas. Jadi, janganlah salah memosisikan dalil.

Pikir matang-matang sebelum berutang

Jika kita mengingat kembali bahaya berutang yang telah diuraikan di awal bahasan ini, maka sudah seharusnya setiap muslim berpkir matang-matang sebelum berutang. Usaha bisa maju, tidak selamanya dengan modal uang. Di Majalah Pengusaha Muslim, sudah sering dijelaskan mengenai berbagai usaha dengan modal minimalis, atau bahkan ada yang tanpa modal sama sekali. Ini tentu bisa menjadi pilihan alternatif. Berprinsiplah untuk "berutang di saat butuh" dan "merasa mampu mengembalikan". Dengan prinsip seperti ini, kita tidak menjadi kesulitan di dunia dan di akhirat kelak.

Ingatlah, bahwa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri selalu meminta perlindingan kepada Allah dari banyak utang, dengan doanya, "Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghram (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari perbuatan dosa dan banyak utang)." (H.R. Bukhari, no. 2397 dan Muslim, no. 589).

Ibnul Qayyim berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari perbuatan dosa dan banyak utang karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia.” (Al-Fawaid)

Wallahu waliyyut taufiq.

Panggang, Gunung Kidul, 19 Jumadats Tsaniyyah 1432 H (22/05/2011),
Muhammad Abduh Tuasikal.

Referensi:
- Al-Fawaid, Ibnul Qayyim, terbitan Darul ‘Aqidah.
- Faidul Qadir, Al-Munawi, Mawqi’ Ya’sub (sesuai cetakan).
- Nailul Authar, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, Mawqi’ Al-Islam (tidak sesuai cetakan).
- Syarh Shahih Bukhari, Ibnu Baththal, Asy-Syamilah.
- Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami’ At-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Abdirrahman bin ‘Abdirrahim Al-Mubarakfuri, terbitan Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut.
- Sumber lainnya.

Sumber: Majalah Pengusaha Muslim, Juni--Juli 2011.

Dipublikasikan oleh www.PengusahaMuslim.com, disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi www.PengusahaMuslim.com.

Artikel www.PengusahaMuslim.com Add to Cart View detail

Cara Menghadapi Bos Yang Perfeksionis

Cara Menghadapi Bos Yang Perfeksionis

Pemimpin yang ideal memang menjadi dambaan setiap pegawai entah itu menjabat sebagai leader, penyelia, manajer, maupun direktur. Paling tidak pemimpin yang ideal yaitu pemimpin yang memiliki watak yang moderat alias tidak terlalu kaku maupun terlalu luwes. Dalam kondisi tertentu, pemimpin yang disukai adalah punya tujuan yang sesuai dengan keinginan bawahannya. Meski demikian, para staf tidak akan pernah tahu seperti apa sosok yang akan memimpin mereka. Mujurlah bagi staf yang punya bos yang baik hati, namun bukan berarti bagi mereka yang tidak memiliki pemimpin yang mereka harapkan menjadi momok yang menimbulkan tekanan batin. Dari sinilah kita harus memiliki cara tepat untuk menghadapi bos yang perfeksionis.

Sifat perfeksionis dan idealis selalu ditunjukkan dengan upayanya yang memperhatikan pekerjaan staf seperinci mungkin. Mungkin Anda pernah atau sering dihadapkan dengan sifatnya hingga Anda mengalami stress, namun cobalah dalam suatu kesempatan melihatnya dalam sisi positif. Boleh jadi itu dilakukannya semata-mata demi kebaikan Anda dan perusahaan juga. Sebagai contoh, bos Anda selalu meminta Anda merevisi laporan Anda entah itu dari kesalahan yang memang fatal, penyampaian pesan yang kurang baik, bahkan cara pengetikan yang tidak terlalu signifikan pun tetap tidak luput dari pantauannya padahal deadline sudah di dekat mata. Dari sisi positifnya hal ini akan menguntungkan Anda sebab apa yang diperintah bos untuk direvisi akan menyempurnakan pekerjaan Anda.

Orang yang perfeksionis biasanya menunjukkan sifatnya sebagai berikut:
  • Ingin melakukan tugasnya dengan sempurna mutlak.
  • Kurang bisa percaya dengan kemampuan orang lain sehingga dia lebih nyaman jika tugas yang seharusnya bisa dibagi-bagi dengan orang lain dia kerjakan sendiri.
  • Memiliki motivasi yang sangat tinggi bahkan cenderung terobsesi untuk mencapai keinginannya.
  • Ingin menang dalam segala hal.
  • Membuat peraturan yang sangat ketat terlebih lagi menetapkan batas minimum yang sangat tinggi.
  • Berjiwa otoriter.
  • Selalu tidak puas dengan hasil pekerjaan

Bagaimana sebaiknya menghadapi bos yang perfeksionis seperti itu?
Jangan ambil pusing dengan perkataannya yang “pedas” dan terkadang kurang logis
Bos yang perfeksionis biasanya mengeluarkan kritikan yang pedas dan to the point misalnya langsung mengatakan “pekerjaanmu tidak ada gunanya” atau “semua laporan ini tidak bernilai dan harus dibuat ulang”. Mungkin Anda akan merasa tertekan sekaligus jengkel. Namun sebagai staf yang mengabdi kepada perusahaan, sebaiknya kritikan itu dijadikan sebagai peluang bagi Anda untuk membuktikan bahwa Anda sudah bekerja sekeras dan sebaik mungkin bukan malah menyerah. Pastikan bahwa apa yang Anda kerjakan sudah berdasarkan standar yang ada.

Hindari kesalahan sekecil apapun
Sebagai manusia memang tidak luput dari kesalahan, namun manusia juga punya akal yang cerdas untuk meneliti dengan saksama kesalahan yang mungkin akan terjadi atau berpeluang untuk mengalami kesalahan. Contohnya kesalahan dalam mengetik huruf, kesalahan dalam menganalisis, kurang rapi, dsb. Cobalah untuk mengkritik diri sendiri sebelum bos Anda mengkritik lebih jauh.

Berikan informasi sebanyak dan sejelas mungkin
Jadilah orang yang berinisiatif untuk menyiapkan semua informasi sebanyak dan sejelas mungkin. Dengan demikian Anda punya banyak “amunisi” jika bos Anda bertanya-tanya di luar dari yang Anda duga. Kurangnya informasi yang diharapkan oleh bos akan mengakibatkan penilaian buruk bos kepada Anda.

Jaga emosi
Bekerja memang memerlukan kekuatan akan tekanan. Jika Anda melihat iklan lowongan kerja, biasanya ada butir yang menyatakan bahwa calon pelamar harus siap menghadapi tekanan pekerjaan (underpressure). Bisa jadi tekanan itu berada pada bos yang perfeksionis yang nantinya akan menjadi tim kerja Anda. Jika Anda melamar di perusahaan yang seperti itu, secara otomatis Anda sudah harus siap dengan keadaan yang ada.

Jangan takut salah
Anda tidak selalu berada di pihak yang salah jika Anda memastikan bahwa apa yang Anda kerjakan sudah berdasarkan standar perusahaan. Apabila Anda menghadapi tuntutan bos yang terus meminta Anda merevisi tugas bahkan di luar jam kerja, berbicaralah dengan sopan dan tetap santai kepadanya. Mintalah secara perinci secara tertulis langkah-langkah apa yang harus Anda lakukan untuk mencegah terjadinya revisi lagi, apa saja tolok ukur kesalahan menurut si bos, dan terutama apa sebenarnya yang diinginkan oleh si bos.

Inilah 5 macam cara untuk menghadapi bos yang perfeksionis. Jika bos Anda selalu mencurahkan sifat perfeksionisnya di luar batas wajar, Anda dapat berdiskusi dengan bagian Human Resource apa yang sebaiknya dilakukan oleh perusahaan.

Oleh: Firman (Content Writer at PT Zahir Internasional)

Artikel ini hasil kerja sama PengusahaMuslim.com dengan Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.
SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
DONASI hubungi: 087 882 888 727
Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial

Ingin tahu bgm cara saya menjadikan Internet sebagai sumber income baru dan ingin belajar dengan dipandu langsung oleh Guru Internet Marketing saya?

Pilih salah satu tema internet marketing sesuai dengan kebutuhan Anda.

1. Bagaimana cara mendapatkan pasif income jutaan rupiah/bulan dg menjual jasa (hobi&keahlian) secara online - > klik di Sini!

2. Bagaimana cara berjualan produk fisik secara online dengan omset ratusan juta rupiah setiap bulan -> klik di Sini!

3. Bagaimana cara mendapatkan ribuan dollar dengan mempromosikan produk milik orang lain di clickbank -> klik di Sini!
Add to Cart View detail

Menemukan Jati Diri Yang Hilang; Sebuah Refleksi dari Perayaan Tahun Baru Masehi


Mayoritas penduduk bangsa Indonesia adalah muslim. Para pejuang yang dahulu memperjuangkan kemerdekaan dari penjajah bagi bangsa ini pun adalah para ulama Islam dan kaum muslimin. Mereka membangkitkan semangat juang rakyat ini dengan ajaran tauhid dan pekikan “Allahu Akbar!”. Namun ironis, pemikiran, tradisi, dan perilaku bangsa ini, belum benar-benar mencerminkan ajaran Islam seutuhnya. Banyak yang mengaku muslim, tapi pemikirannya kebarat-baratan, tradisi yang dianutnya mengimpor dari luar Islam dan perilakunya malah tidak Islami. Islam di satu kutub, sementara kaum muslimnya seolah di kutub yang lain.

Sebentar lagi, perhelatan besar tahunan akan digelar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan menyambut tahun baru, yang walaupun sama sekali bukan berasal dari tradisi Islam, selalu sukses menyedot antusiasme kaum muslim di negeri ini. Kemeriahan perayaan yang biasanya digelar pada malam hari tanggal 31 Desember dengan puncak acara tepat pada pukul 00.00 ini tak ayal melibatkan banyak kaum muslim, dari kalangan muda-mudi sampai dewasa.

Konon, 1 Januari ditetapkan sebagai awal tahun oleh orang-orang Romawi pada tahun 45 SM. Hari itu didekasikan oleh mereka untuk mengagungkan Janus, dewa pintu gerbang dan permulaan, dimana bulan pertama dalam kalender masehi (Januari) terambil darinya. Hal ini menunjukkan, bahwa perayaan tahun baru sebetulnya berasal dari tradisi kaum pagan (penyembah berhala). Pada waktu berikutnya, tanggal 1 Januari ditetapkan oleh orang-orang Kristen sebagai hari khitanan Yesus, hari kedelapan setelah kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember. Hal ini masih berlaku di beberapa Gereja, seperti Gereja Angkilan dan Lutheran. Kemudian pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII juga menetapkan 1 Januari sebagai permulaan tahun, bertepatan dengan pesta kehitanan Yesus tersebut. (http://en.wikipedia.org/wiki/New_Year’s_Day).

Dari sejarahnya, jelas bahwa perayaan tahun baru masehi sangat kental dengan tradisi kaum pagan dan umat Kristiani. Namun apa lacur, setiap tahunnya kaum muslim di negeri ini seolah berlomba-lomba memeriahkan acara pergantian tahun tersebut, berpesta pora layaknya hari kemenangan bagi mereka. Hal ini seolah menggambarkan, bahwa jati diri kaum muslim sebagai umat terbaik, telah luntur dalam dada-dada mereka. Tradisi non-muslim yang seharusnya dijauhi, sebagai bagian dari sikap baro` (berlepas diri), malah dengan suka cita dan kekhusuan mereka ramaikan. Padahal Nabi Islam, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewanti-wanti, agar umatnya tidak melakukan imitasi terhadap tradisi dan kebiasaan kaum mana pun. Beliau menyatakan dengan keras, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (HR Ahmad dan Abu Dawud, dinilai shahih oleh Al Albani)

Fenomena yang terjadi pada diri kaum muslim seperti ini, telah diproyeksi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 14 abad silam, “Sungguh kamu akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, hingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu pun akan mengikutinya.” Mereka bertanya, “Apakah Yahudi dan Nashrani?” beliau bersabda, “Siapa lagi?” (HR Muslim).

Dalam hadis yang lain, “Tidak akan terjadi hari kiamat, hingga umatku mengikuti kebiasaan orang-orang terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seperti orang-orang Persia dan Romawi?” beliau menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR Bukhari).

Melalui fenomena perayaan tahun baru, kita bisa menyimpulkan, bahwa banyak kaum muslim di negeri ini sepertinya kehilangan jati diri mereka sebagai umat Islam. Untuk itu, perlu diupayakan dengan serius oleh para da’i dan tokoh Islam di negeri ini, untuk membangun kembali jati diri mereka sebagai muslim. Berikut adalah diantara cara membangun kembali jati diri muslim tersebut:

Pertama: menyadarkan kembali kaum muslim tentang arti hidup mereka di dunia ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah azza wa jalla (QS. Adz- Dzariyat: 56). Sebagai makhluk yang dicipta dan dikarunia rupa-rupa nikmat di dunia ini oleh Allah, sudah seharusnya mereka hidup di jalan-Nya, mengikuti pedoman-Nya dan berbuat semata-mata untuk mencari keridhaan-Nya.

Kedua: menjelaskan kembali arti penting keimanan dan keyakinan mereka sebagai muslim. Kaum muslim harus benar-benar faham, bahwa iman dan keyakinan itulah yang kelak akan menyelamatkan mereka di hari kemudian. Dari sini akan muncul kecintaan kepada iman itu sendiri, yang konsekwensinya adalah kebencian terhadap segala yang bertentangan dengan keimanan itu.

Ketiga: membangkitkan kembali ghairah Islam pada diri mereka. Kaum muslim harus memiliki kecemburuan (ghairah) pada hal-hal yang tidak sejalan dengan agamanya. Kaum muslim harus memiliki semacam sinyal pengingkar, terhadap segala fenomena yang bertentangan dengan ajaran agamanya yang ia saksikan dihadapannya, walau pun hanya sebatas dalam hati.

Keempat: menguatkan kembali kepercayaan mereka terhadap ajaran Islam yang paripurna. Kaum muslim harus percaya dengan sepenuhnya, bahwa agama ini telah sempurna (QS. Al Maidah: 3). Agama ini bukan sekedar ritual-ritual ibadah yang bersifat privat, namun juga mengandung nilai-nilai dan sejumlah aturan dalam aspek-aspek hidup manusia yang bersifat umum. Ajaran Islam ini cukup sempurna untuk membangun peradaban manusia yang maju dan menjamin kebaikan hidup mereka di dunia ini, sebelum di akhirat kelak.

Kelima: menjelaskan kembali kepada mereka ancaman-ancaman yang dihadapi kaum muslim di seluruh dunia saat ini. Terutama yang datang dari orang-orang kafir, khususnya orang-orang Yahudi dan Nashrani. Hal ini seperti yang telah Allah peringatkan dalam al Qur`an (QS. Al Baqarah: 120), juga Rasulullah peringatkan seperti dalam hadis diatas.

Keenam: meyakinkan kembali kaum muslim tentang janji kemenangan yang Allah janjikan, jika mereka benar-benar beriman dan berpegang teguh terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya. Hendaknya mereka tidak berputus asa dan merasa kerdil dihadapan orang-orang kafir yang saat ini memang lebih dominan dibandingkan kaum muslim. Kejayaan mereka seharusnya tidak menyilaukan kaum muslim dan merontokkan keyakinan mereka terhadap janji-janji Allah.

Ketujuh: menampilkan secara intens kepada mereka contoh dan prototype kehidupan yang seharusnya mereka teladani dalam kehidupan ini, utamanya sosok Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, Nabi pemilik akhlak yang agung dan pemimpin dunia yang tegas. Setelah itu para sahabat beliau ridhwanullah ‘alaihim, generasi istimewa yang terdidik dalam asuhan nubuwwah, tempaan jihad dan pengajaran iman secara langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu para salaf shaleh setelah mereka, kemudian para ulama rabbani yang sungguh-sungguh dalam keislaman mereka hingga saat ini.

Cara-cara diatas tentu akan tidak mudah dijalani, namun begitulah garis perjuangan, selalu membutuhkan upaya dan kerja keras, serta doa yang tak putus-putus untuk tetap dipanjatkan kepada Pemilik hidayah. Wallahu a’lam.



Penulis: Ust. Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc.
Alumni Pondok Pesantren Darussalam Subang, S1 Universitas Al Azhar Mesir, da'i di Maktab Dakwah Jaliyat Bathah Riyadh KSA

Artikel Muslim.Or.Id
Add to Cart View detail

Andai Anda Jadi Presiden


Demo lagi demo lagi. Celaan demi celaan, tuntutan demi tuntutan, hingga bermuara pada rencana melengserkan sang presiden. Itulah secuil dari kerusakan yang sangat banyak akibat sistem demokrasi ala barat. Tidakkah kita berpikir sejenak “Andai kita jadi presiden”, mampukah kita menunaikan amanah berat jabatan presiden?

Inilah sebagian ciri-ciri kepala negara yang baik dalam syari’at Islam yang perlu Anda miliki seandainya Anda menjadi kepala negara:

Menjadi Imam Yang Adil
Jika anda berhasil menjadi imam yang adil, di antara balasannya Anda mendapat naungan Allah di hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, namun tahukah Anda adil itu bagaimana?

Ulama telah menjelaskan tentang ciri pokok keadilan seorang imam adalah berhukum dengan Syariat Islam, maka barangsiapa yang tidak berhukum dengan syari’at Islam ia bukanlah imam yang adil. Iitulah tafsiran imam adil yang terbaik.

Artinya, jika Anda menjadi presiden, maka perlu memiliki ilmu syari’at Islam yang dalam dan keberanian untuk berhukum dengannya di tengah-tengah arus hukum yang batil.

Berat? Jika Anda merasa tidak mampu menjadi kepala negara yang baik, maka do’akanlah presiden Anda!

Doakan semoga Allah memberi petunjuk kepadanya, berilah nasihat dengan adab Islami dan jangan cela beliau di hadapan publik.
Memilih penasihat, menteri, dan pejabat sebagaimana rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnyaradhiallahu ‘anhum contohkan.
Contohlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dengan dua sosok sahabatnya yang berilmu dan bertakwa, yaitu Ali dan Usamah radhiyallahu ‘anhuma dalam masalah berita dusta yang disebarkan oleh ahlul ifki (para penebar isu) tentang ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Contohlah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu,

وكان القراء أصحاب مشورة عمر كهولا كانوا أو شبانا، وكان وقّافا عند كتاب الله عز وجل.

“Dahulu orang-orang yang diajak musyawarah Umar radhiyallahu ‘anhu adalah Al-Qurra`, baik tua maupun muda dan mereka benar-benar berpegang teguh dengan Al-Qur`an“.

Dijelaskan oleh Ibnu Hajar rahimahullah bahwa makna Al-Qurra` adalah Ulama Ahli Al-Qur`an dan As-Sunnah serta Ahli Ibadah . Berat? Jika Anda merasa tidak mampu menjadi kepala negara yang baik, maka do’akanlah presiden Anda!
Mampu mengendalikan nafsu dengan memilih apa yang Allah ridhai
Presiden, beliau memiliki kekuasaan dan harta yang besar yang seandainya keduanya itu menjadi milik kita belum tentu kita mampu mengendalikan nafsu arogansi & kezaliman dengan kekuasaan, harta, atau wanita. Pantaslah jika ia berhasil mengendalikan nafsu, ta’at kepada Rabbnya, dan adil maka akan ditempatkan di atas mimbar dari cahaya.

Berat? Jika Anda merasa tidak mampu menjadi kepala negara yang baik, maka do’akanlah presiden Anda!

Hindari menggibah (menggunjing) beliau lewat WA, facebook, twiter, dan yang lainnya. Bagaimana jika Anda merasa memiliki saran yang membangun untuknya? Tentu bukan disampaikan dengan cara demo sebagai jalan keluarnya, bukan pula statement yang memanaskan suasana, bahkan menjatuhkan martabatnya. Namun,
Ambillah secarik kertas dan tulislah
Dengan tulus ikhlas yang mendalam & mutaba’ah (evaluasi) yang baik dan goresan tinta kasih sayang diiringi pilihan kata yang diberkahi dari ucapan-ucapan Salafus Shalih, maka tuliskanlah untuknya (baca: untuk presiden Anda) perkataan yang lembut dan menyentuh hati.

Kepada yang kami hormati Bapak Presiden -semoga Allah membimbing dan menjaga Anda-,

Ingatlah,bahwa Imam yang adil adalah sosok pemimpin yang berada di antara Allah dan hamba-hamba-Nya (baca: rakyat). Ia ta’at kepada-Nya dan menuntun mereka/masyarakat, untuk ta’at pula kepada-Nya seperti dirinya,

ia suka mengingat-Nya dan menuntun mereka suka mengingat-Nya seperti dirinya.

Wahai Bapak Presiden -semoga Allah memasukkan Anda sekeluarga dalam surga-Nya-,

Sesungguhnya sosok imam yang adil adalah figur pemimpin yang siap meluruskan penyimpangan rakyatnya, melindungi mereka dari kezaliman, memperbaiki setiap kerusakan, menguatkan yang lemah serta menolong orang yang butuh bantuan.

Imam yang adil,wahai Bapak Presiden, adalah seperti sosok bapak yang sangat mencintai anak-anaknya, mencukupi mereka saat kecil, memberi bekal hidup saat mereka dewasa, mempersiapkan bekal akhirat untuk kehidupan sesudah kematian mereka.

Imam yang adil, wahai Bapak Presiden, adalah seperti sosok ibu yang sangat menyayangi buah hatinya, ia rela susah payah mengandungnya, susah payah melahirkannya, susah payah mendidiknya, ikut sedih saat anaknya sedih, bahkan ikut “demam” saat anaknya demam, terkadang disusuinya anak itu, walau kelak harus tega menyapihnya.

Wahai Bapak Kepala Negara,

bahwa sesungguhnya Anda kelak akan memiliki tempat kedudukan yang bukan seperti kedudukan Anda sekarang,

yaitu sebuah tempat kedudukan yang memisahkan Anda dengan orang yang Anda cintai dan pendukung setia Anda di dunia, mereka akan mengantarkan Anda hanya sampai ke dalam lubang sempit, setelah itu mereka pun meninggalkan Anda sendirian, maka carilah bekal untuk hidup di suatu hari yang ketika itu seseorang akan lari dari tuntutan saudara, ibu, bapak, istri, dan anaknya.

Dan hati-hatilah terhadap sekelompok manusia yang tega menjerumuskan Anda menikmati kelezatan hidup di dunia yang sementara, namun dengan konsekuensi hilangnya kelezatan hidup Anda selamanya di Akherat.

Wahai Presiden, Pemimpin kaum muslimin,

Janganlah Anda tertipu dengan derajat Anda sekarang, namun perhatikanlah derajat Anda kelak ketika Anda harus mempertanggungjawabkan perbuatan Anda di hadapan Rabbul ‘Alamin.

Terakhir, satu permohonan kami, yaitu posisikanlah surat kami ini selayaknya surat yang datang dari seorang sahabat akrab yang paling mencintai Anda, ikhlas lillahi Ta’ala dengan harapan Anda sudi menerima risalah ini.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

***

[Digubah dan dipetik dari surat yang ditulis oleh Al-Hasan Al-Bashri kepada Kepala Negara Umar bin Abdul Aziz rahimahmallah Ta’ala, diambil dariAl-`Aqdul Fariid, Ibnu Abdi Rabbihi Al-Andalusi 1/33 Maktabah Syamilah]



Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Pengajar Ma'had Syaikh Jamilurrahman As Salafy Yogyakarta

Artikel Muslim.Or.Id
Add to Cart View detail

Minggu, 28 Desember 2014

2 Kisah yang Mengguncang tentang 2 Onlinepreneurs Indonesia

internet re

Jagat online Indonesia kian melaju menderu-deru. Tahun ini user internet di tanah air telah tembus 100 juta anak manusia – sebuah angka yang masif dan menghadirkan samudra peluang yang luas membentang.

Penetrasi Wifi, ekspansi broadband dan ledakan pengguna smartphone adalah amunisi yang membuat jagat maya nusantara terus berkibar-kibar.

Dan dalam derap kibaran itu, menyeruak dua kisah mengguncang tentang dua anak muda onlinepreneurs Indonesia. Dua kisah mencengangkan yang akan coba kita ulik dengan renyah.

Silakan diminum dulu teh hangatnya, sebelum kita menjelajah dua kisah dramatis ini.

Kisah yang pertama adalah tentang anak muda bernama Natali Ardianto – sebuah nama yang cukup dikenal dalam jagat digital start up tanah air. Ia adalah sarjana yang kini berusia 33 tahun, dan sebelumnya menjadi karyawan bagian IT di berbagai perusahaan.

Setelah beberapa tahun menjalani hidup sebagai karyawan, ia memutuskan untuk merintis bisnis sendiri di online – sebuah dunia yang ia cintai. Ia bilang, kalau jadi karyawan mungkin kenaikan pendapatan tiap tahun maksimal 15%, sementara kalau usaha sendiri kenaikannya bisa sampai 100%.

Begitulah di usia 25an tahun Ardianto memulai petualangan bisnisnya dengan mendirikan Urbanesia – sebuah online directory yang memuat daftar tempat kuliner, kafe, dan distro fashion di Jakarta. Meski sempat nge-hits, Urbanesia gagal tumbuh seperti yang ia harapkan.

Meski kecewa dengan kegagalan Urbanesia, Ardianto tidak menyerah. Ia lalu mencoba merintis projek keduanya dengan membangun Golfnesia – sebuah online reservation tempat golf di Jakarta dan Bandung.

Golfnesia, sebuah nama yang lumayan keren. Namun ternyata layanan online ini juga gagal total. Kenapa? Karena ternyata sebagian besar lapangan golf di tanah air bersifat tertutup, dan tidak membuka diri terhadapa rerservasi eksternal, apalagi bersifat online.

Ardianto terpukul. Dua kali mencoba merintis bisnis online, dua kali pula gagal. Ya, gagal bisnis dua kali mungkin lebih pedih dibanding diputus pacar. *Sakitnya tuh disini*

Dua kali kegagalan itu membuat Ardianto berhemat. Uang tabungannya makin menipis, dan ia mesti makan siang dengan lauk yang bersahaja demi mengirit pengeluaran.

Dengan energi dan sisa uang tabungan yang tersisa, ia lalu mengajak dua temannya untuk melakukan petualangan bisnis yang ketiga.

Begitulah, ia bersama kedua temannya mengurung di kamar kerja selama 100 hari, demi melakukan coding, membuat aplikasi online ticket reservation. Tiap malam, mereka bergadang sambil ditemani kopi dan wedang bajigur. Demi passion mereka untuk membangun bisnis online yang berkibar.

Tepat di bulan November 2011, setelah 100 hari 100 malam berjibaku, Ardianto meluncurkan layanan online baru mereka yang diberi nama sederhana tapi amat powerful – www.tiket.com

Ardianto deg-degan dengan peluncuran projek bisnisnya yang ketiga ini. Ia dibayangi ketakukan akan kembali gagal seperti dua usaha sebelumnya. Ia hanya bisa berdoa setelah segenap kerja keras dicurahkan, dan bergelas-gelas kopi diteguk.

Rupanya gema doa Ardianto mendapat ijabah dari Sang Maha Pemberi Rezeki.

Hanya dalam waktu 3 tahun, omzet www.tiket.com menembus angka Rp 1 TRILIUN. Sebuah pencapaian yang amat mencengangkan.

Tak pernah ada dalam sejarah bisnis di tanah air – yang online ataupun offline sekalipun – sebuah bisnis yang bisa menembus omzet segeda gaban (1 TRILIUN) hanya dalam waktu 3 tahun. Never before in history.

Now that’s the power of internet economy. The miracle of digitalnomics.

Kini tiket.com bisa melakukan menjual 7000 lembar tiket kali TIAP HARI, dengan nilai rata-rata Rp 400 ribu per transaksi. 70% penjualan didapat dari tiket pesawat, dan sisanya adalah tiket konser, kereta api dan tiket lainnya. Pada tahun 2013, pertumbuhan bisnis mereka tembus 3000%. Incredible.

Sambil menyeruput secangkir cappucino, Ardianto mengenang masa saat ia harus berhemat dan berjibaku 100 hari menyiapkan bisnis ketiganya ini.

Mimpi dan passion-nya seperti mendapatkan validasi yang amat menggetarkan.

Atas pencapaian yang mengguncang itu, secara informal saya menyebut Ardianto sebagai “Mark Zukberberg of Indonesia” – the wonder boy of online economy.

KISAH YANG KEDUA – sama-sama mengguncangnya. Kisah ini berpusat pada sosok bernama William Tanuwijaya, anak muda lulusan Binus yang juga baru berusia 33 tahun (usia yang sama seperti Natali Ardianto).

Sama seperti Ardianto, dulunya Tanuwijaya adalah karyawan bagian IT dan Business Development dengan gaji alakadarnya. Visinya yang kuat tentang masa depan bisnis online membuat ia resign, untuk full time membangun sebuah online marketplace.

Begitulah tepat di tanggal 17 Agustus 2009, bertepatan dengan hari Proklamasi, Tanuwajaya meluncurkan TOKOPEDIA, sebuah online marketplace yang mempertemukan online sellers dan buyers.

Pelan-pelan, Tanuwijaya membesarkan bisnis online-nya itu – setapak demi setapak, tanpa kenal lelah. Sebab ia punya ambisi dan passion yang kuat untuk meraih sukses dengan Tokopedia-nya.

Kini, Tokopedia muncul menjadi online marketplace terdepan di tanah air, dengan jumlah pengunjung hingga 10 juta per bulan. Tokopedia juga sukses memproses 2 juta transaksi penjualan per bulan.

Lalu lima hari lalu, Tanuwijaya merilis kabar yang mengguncang : Tokopedia berhasil memperoleh pendanaan dari investor baru senilai Rp 1,2 TRILIUN. Another big WOW.

Yang juga tak kalah menggetarkan : salah satu investor (venture capital) yang memberikan pendanaan itu adalah Sequoia Capital – sebuah venture capital paling legendaris di Silicon Vally. Lembaga inilah yang melahirkan Apple, Google, Youtube hingga Instagram.

Dan sekarang, lembaga yang melahirkan raksasa-raksasa digital dunia itu mendanai Tokopedia.

Dalam proses pendanaan itu, Tokopedia juga mendapatkan valuasi senilai Rp 400 milyar (estimasi). Artinya kalau William Tanwijaya menjual seluruh sahamnya di Tokopedia, ia akan mendapatkan uang cash 400 MILYAR. Incredible.

Namun, Tanuwijaya bilang ia ingin membangun Tokopedia hingga 500 tahun ke depan. Ia ingin meninggalkan legacy yang layak dikenang.

Dan mungkin dengan itu ia layak disebut sebagai “Jack Ma of Indonesia” (Jack Ma adalah mantan guru SMA, pendiri Alibaba.com, online marketplace terbesar di China dan sekarang menjadi orang terkaya di China).

Natali Ardianto dan William Tanuwijaya sama-sama berusia 33 tahun, dan sama-sama memulai bisnisnya sendiri di usia muda. Kisah mereka adalah cerita tentang visi bisnis yang kuat, kompetensi dan juga ketegaran mewujudkan mimpi.

Kisah mereka adalah juga cerita tentang mindset keberlimpahan (abundance mindset).

Dulu, saat saya menulis artikel berjudul : Kenapa Saat Usia 55 tahun, Anda harus Punya Tabungan 3 Milyar; banyak pembaca mencak-mencak, dan bilang artikel itu ngawur, tidak masuk akal, dan blah-blah lainnya.

Saya merasa, pembaca yang berkomentar seperti itu, dalam alam bawah sadarnya tersimpan mentalitas serba-kekurangan (bukan mentalitas keberlimpahan). Atau seperti yang pernah diucapkan salah satu guru manajemen saya, “mentalitas proletar”.

Kisah Ardianto dan Tanuwijaya dengan telak menunjukkan, bahkan pada usia yang masih amat muda, kita bisa meraih financial freedom dalam jumlah yang amat fenomenal. Sepanjang kita memang punya KOMPETENSI dan mentalitas KEBERLIMPAHAN.

Dan seperti yang ada dalam kisah diatas, Ardianto dan Tanuwijaya meraih profit yang fenomenal bukan karena anak orang kaya atau karena korupsi. Mereka murni meraihnya karena kerja keras, doa, visi bisnis yang kuat, serta keyakinan bahwa mereka bisa mewujudkan impian mereka.

What you believe is what you get.

Kisah mencengangkan dari dua onlinepreneurs ini mengajak kita merenung kembali dengan cermat apa makna slogan pendek itu.

Yes, what you believe is what you get.

~~~~

- See more at: http://strategimanajemen.net/2014/10/27/2-kisah-yang-mengguncang-dan-mencengangkan-tentang-2-onlinepreneurs-indonesia/#more-1720

Ingin tahu bgm cara saya menjadikan Internet sebagai sumber income baru dan ingin belajar dengan dipandu langsung oleh Guru Internet Marketing saya?

Pilih salah satu tema internet marketing sesuai dengan kebutuhan Anda.

1. Bagaimana cara mendapatkan pasif income jutaan rupiah/bulan dg menjual jasa (hobi&keahlian) secara online - > klik di Sini!

2. Bagaimana cara berjualan produk fisik secara online dengan omset ratusan juta rupiah setiap bulan -> klik di Sini!

3. Bagaimana cara mendapatkan ribuan dollar dengan mempromosikan produk milik orang lain di clickbank -> klik di Sini!
Add to Cart View detail

Biografi Ibnul Qayyim al-Jauziyah

Ibnul Qayyim al-Jauziyaha

Nasab dan Kelahiran Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah


Beliau adalah Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’ad bin Hariiz bin Maki Zainuddin az-Zura’I ad-Dimasyqi al-Hanbali. Yang lebih terkenal dengan panggilan Ibnul Qayyim al-Jauziyah.

Perjalanan beliau dalam Menuntut Ilmu

Ibnul Qayyim rahimahullah tumbuh berkembang di keluar yang dilingkupi dengan ilmu, keluarga yang religius dan memiliki banyak keutamaan. Ayahanda, Abu Bakar bin Ayyub az-Zura’i beliau adalah pengasuh di al-Madrasah al-Jauziyah. Disinilah al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah belajar dalam asuhan dan bimbingan ayahanda beliau dan dalam arahannya yang ilmiyah dan selamat.

Dalam usia yang relatif beliau, sekitar usia tujuh tahun, Imam Ibnul Qayyim telah memulai penyimakan hadits dan ilmu-ilmu lainnya di majlis-majlis para syaikh/guru beliau. Pada jenjang usia ini beliau rahimahullah telah menyimak beberapa juz berkaitan dengan Ta’bir ar-Ruyaa (Tafsir mimpi) dari syaikh beliau Syihabuddin al-‘Abir. Dan juga beliau telah mematangkan ilmu Nahwu dan ilmu-ilmu bahasa Arab lainnya pada syaikh beliau Abu al-Fath al-Ba’labakki, semisal Alfiyah Ibnu Malik dan selainnya.

Beliau juga telah melakukan perjalan ke Makkah dan Madinah selama musim haji. Dan beliau berdiam di Makkah. Juga beliau mengadakan perjalanan menuju Mesir sebagaimana yang beliau isyaratkan dalam kitab beliau Hidayah al-Hiyaraa dan pada kitab Ighatsah al-Lahafaan.

Ibnu Rajab mengatakan, “Beliau melakukan beberapa kali haji dan berdiam di Makkah. Penduduk Makkah senantiasa menyebutkan perihal beliau berupa kesungguhan dalam ibadah dan banyaknya thawaf yang beliau kerjakan. Hal mana merupakan suatu yang menakjubkan yang tampak dari diri beliau.” Dan disaat di Makkah inilah beliau menulis kitab beliau Miftaah Daar as-Sa’adah wa Mansyuur Wilayaah Ahlil-Ilmi wal-Iradah.

Keluasan Ilmu Syaikhul Islam Ibnul Qayyim Dan Pujian Ulama terhadap beliau

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah sangat menonjol dalam ragam ilmu-ilmu islam. Dalam setiap disiplin ilmu beliau telah memberikan sumbangsih yang sangat besar.

Murid beliau, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali, mengatakan, “Beliau menyadur fiqh dalam mazhab Imam Ahmad, dan beliau menjadi seorang yang menonjol dalam mazhab dan sebagai seorang ahli fatwa. Beliau menyertai Syaikhul Islam Taqiyuddin dan menimba ilmu darinya. Beliau telah menunjukkan kemahiran beliau dalama banyak ilmu-ilmu Islam. Beliau seorang yang mengerti perihal ilmu Tafsir yang tidak ada bandingannya. Dalam ilmu Ushul Fiqh, beliau telah mencapai puncaknya. Demikian pula dalam ilmu hadits dan kandungannya serta fiqh hadits, segala detail inferensi dalil, tidak ada yang menyamai beliau dlam hal itu. Sementara dalam bidang ilmu Fiqh dan ushul Fiqh serta bahasa Arab, beliau memiliki jangkauan pengetahuan yang luas. Beliau juga mempelajari ilmu Kalam dan Nahwu serta ilmu-ilmu lainnya. Beliau seorang yang alim dalam ilmu suluk serta mengerti secara mendalam perkataan dan isyarat-isyarat ahli tasawuf serta hal-hal spesifik mereka. Beliau dalam dalam semua bidang keilmuan ini memiliki jangkauan yang luas.”

Murid beliau yang lain, yakni al-Hafizh al-Mufassir Ibnu Katsir mengatakan, “Beliau menyimak hadits dan menyibukkan diri dalam ilmu hadits. Dan beliau menunjukkan kematangan dalam banyak ragam ilmu Islam terlebih dalam ilmu Tafsir, hadits dan Ushul Fiqh serta Qawa`id Fiqh. Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kembali ke negeri Mesir, beliau lalu mulazamah kepadanya hngga Syaikhul islam wafat. Beliau menimba ilmu yang sangat banyak darinya disertai dengan kesibukan beliau dalam hal ilmu sebelumnya. Akhirnya beliau adalah yang paling diunggulkan dalam banyak ilmu-ilmu Islam, …”

Adz-Dzahabi berkata, “Beliau telah memberikan perhatian pada ilmu hadits, matan maupun tentang hal ihwal perawinya. Dan beliau juga berkecimpung dalam ilmu fiqh, dan membaguskan penempatannya, …”
Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata, “Beliau menguasai banyak ilmu-ilmu Islam telebih dalam ilmu tafsir, ushul baik berupa inferensi zhahir maupun yang tersirat (mafhum).”

Al-‘Allamah ash-Shafadi mengatakan, “Beliau sangat menyibukkan diri dengan ilmu dan dalam dialog. Juga bersungguh-sungguh dan terfokuskan dalam menuntut ilmu. Beliau telah menulis banyak karya ilmiyah dan menjadi salah seorang dari imam-imam terkemuka dalam ilmu tafsir, hadits, ushul fiqh maupun ushul ilmu kalam, cabang-cabang ilmu bahasa Arab. Syaikhul islam Ibnu Taimiyah tidaklah meninggalkan seorang murid yang semisal dengannya.”

Pujian juga datang dari banyak ulama besar lainnya, semisal dari imam al-‘Allamah Ibnu Taghribardi, al-‘Allamah al-Miqriizi, al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalaani, al-Imam asy-Suyuthi, al-‘allamah asy-Syaukani dan selainnya.

Guru-guru beliau
Berikut ini adalah nama-nama masyaikh/guru-guru beliau yang terkenal,
  1. Ayahanda beliau yaitu Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’ad az-Zura’I ad-Dimasyqi. Dimana Ibnul Qayyim menyadur ilmu Faraidh dari beliau.
  2. Abu Bakar bin Zainuddin Ahmad bin Abdu ad-Daa`im bin Ni’mah an-Naabilisi ash-Shalihi. Beliau dijuluki al-Muhtaal. (wafat 718 H)
  3. Syaikhul Islam Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdissalam bin Abil-Qasim bin Taimiyah al-Harrani ad-Dimasyqi al-Hanbali. (wafat 728 H). Beliau adalah guru Ibnul Qayyim yang paling populer, dimana Ibnul Qayyim rahimahullah mulazamah dalam banyak bidang-bidang keilmuan darinya.
  4. Abu al-‘Abbas Ahmad bin Abdurrahman bin Abdul Mun’im bin Ni’mah Syihabuddin an-Nabilisi al-Hanbali. 9wafat 697 H).
  5. Syamsuddin abu Nashr Muhammad bin ‘Imaduddin Abu al-Fadhl Muhammad bin Syamsuddin Abu Nashr Muhammad bin Hibatullah al-Farisi ad-Dimasyqi al-Mizzi. (wafat 723 H)
  6. Majduddin Abu Bakar bin Muhammad bin Qasim al-Murasi at-Tuunisi. 9wafat 718 H)
  7. Abu al-Fida` Ismail bin Muhammad bin Ismail bin al-Farra` al-Harrani ad-Dimasyqi, syaikhul Hanabilah di Damaskus. (wafat 729 H)
  8. Shadruddin Abu al-Fida` Ismail bin Yusuf bin Maktum bin Ahmad al-Qaisi as-Suwaidi ad-Dimasyqi (wafat 716 H)
  9. Zainuddin Ayyub bin Ni’mah bin Muhammad bin Ni’mah an-Naabilisi ad-Dimasyqi al-Kahhaal. (wafat 730 H).
  10. Taqiyuddin Abu al-Fadhl Sulaiman bin Hamzah bin Ahmad bin Umar bin qudamah al-Maqdisi ash-Shalihi al-Hanbali. (wafat 715 H).
  11. Syarafuddin Abdullah bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harrani ad-Dimasyqi, saudara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (wafat 727 H).
  12. ‘Alauddin Ali bin al-Muzhaffar bin Ibrahim Abul hasan al-Kindi al-Iskandari ad-Dimasyqi. (wafat 716 H)
  13. Syarafuddin Isa bin Abdurrahman bin Ma’aali bin Ahmad al-Mutha’im Abu Muhammad al-Maqdisi ash-Shalihi al-hanbali. (wafat 717 H)
  14. Fathimah binti asy-Syaikh Ibrahim bin Mahmud bin Jauhar al-Ba’labakki. (wafat 711 H).
  15. Baha`uddin Abul al-Qasim al-Qasim bin asy-Syaikh Badruddin Abu Ghalib al-Muzhaffar bin Najmuddin bin Abu ats-Tsanaa` Mahmud bin Asakir ad-Dimasyqi. (wafat 723 H).
  16. Qadhi Qudhaat Badruddin Muhammad bin Ibrahim bin Sa’adullah bin Jama`ah al-Kinaani al-Hamawi asy-Syafi’i. (wafat 733 H).
  17. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abu al-Fath bin Abu al-Fadhl al-Ba’labakki al-Hanbali. (wafat 709 H)
  18. Shafiyuddin Muhammad bin Abdurrahim bin Muhammad al-Armawi asy-Syafi’I al-Mutakallim al-Ushuli, Abu Abdillah al-Hindi. (wafat 715)
  19. Al-Hafizh Yusuf bin Zakiyuddin Abdurrahman bin Yusuf bin Ali al-Halabi al-Mizzi ad-Dimasyqi. (wafat 742 h).

Murid-murid beliau

Ketenaran al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah serta kedudukan ilmiyah beliau yang tinggi menjadikan banyak klangan ulama terkenal yang mengagungkan dan berguru kepada beliau. Demikian banyak ulama dan selain mereka yang mengambil ilmu dan berdesakan di majlis Ibnul Qayyim rahimahullah. Dari mereka yang menimba ilmu dari Ibnul Qayyim, bermunculan para pakar dibidang ilmu tertentu. Diantara murid-murid beliau,
  1. Anak beliau Burhanuddin bin al-Imam Ibnul Qayyim.
  2. Anak beliau Jamaluddin bin al-Imam Ibnul Qayyim.
  3. Al-Hafizh al-Mufassir Abu al-Fida` Ismail bin Umar bin Katsir al-Qaisi ad-Dimasyqi.
  4. Al-Hafizh Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab al-Hasani al-Baghdadi al-Habali.
  5. Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abdul hadi bin Yusuf bin Qudamah al-Maqdisi ash-Shalihi.
  6. Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Abdul Qadir bin Muhyiddin Utsman al-Ja’fari an-Naabilisi al-Hanbali.
  7. Dan lain sebagainya.

Kepribadian Syaikhul Islam Ibnul Qayyim

Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullah, selain dikenal dengan keluasan ilmu dan pengetahuan beliau akan ilmu-ilmu Islam, beliau juga seorang yang tidak melupakan hubungan beliau dengan penciptanya. Adalah beliau seorang yang dikenal dengan sifat-sifat mulia, baik dalam ibadah maupun akhlak dan prilaku beliau. Beliau adalah seorang yang senantiasa menjaga peribadatan dan kekhusyu’an dalam ibadah. Selalu berinabah dan menundukkan hati kepada-Nya. Seluruh waktu beliau habis tercurah untuk wirid, dzikir dan ibadah. Beliau juga seorang yang dikenal dengan banyaknya tahajjud, sifat wara`, zuhud, muraqabah kepada Allah dan segala bentuk amal-amal ibadah lainnya. Kitab-kitab beliau semisal Miftaah Daar as-Sa’adah, Madaarij as-Salikin, al-Fawaa`id, Ighatsah al-ahafaah, thariiq al-Hijratain dan selainnya adalah bukti akan keutamaan beliau dalam hal ini.

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-hanbali berkata, “Adalah beliau seorang yang selalu menjaga ibadah dan tahajjud. Beliau seringkali memanjangkan shalat hingga batas yang lama, mendesah dan berdesis dalam dzikir, hati beliau diliputi rasa cinta kepada-Nya, senantiasa ber-inabah dan memohon ampunan dari-Nya, berserah diri hanya kepada Allah, … tidaklah saya pernah melihat yang semisal beliau dalam hal itu, dan juga saya belum pernah melihat seseorang yang lebih luas wawasan keilmuan dan pengetahuan akan kandungan makna-makna al-qur`an dan as-Sunnah serta hakikat kimanan dari pada beliau. Beliau tidaklah ma’shum, akan tetapi saya belum melihat semisal beliau dalam makna tersebut.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, menyifati panjangnya shalat beliau, “Saya tidak mengetahui seorang alim di muka bumi ini pada zaman kami yang lebih banyak ibadahnya dibandingkan dengan beliau. Beliau sangatlah memanjangkan shalat, melamakan ruku’ dan sujud, …”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata menyifati diri beliau, “Beliau rahimahullah, biasanya setelah mengerjakan shalat shubuh duduk ditempat beliau berdzikir kepada Allah hingga hari telah meninggi.”
Dan adalah beliau –Ibnul Qayyim- berkata, “Dengan kesabaran dan kemiskinan akan teraih kepemimpinan dalam hal agama.”
Dan beliau juga berkata, “Haruslah bagi seorang yang meniti jalan hidayah memiliki kemauan kuat yang akan mendorongnya dan mengangkatnya serta ilmu yang akan menjadikannya mengerti/yakin dan memberinya hidayah/petunjuk.”

Sementara akhlak dan kepribadian beliau dalam mu’amalah, sebagaimana yang disampaikan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir, “Beliau seorang yang sangat indah bacaan al-qur`an-nya serta akhlak yang terpuji. Sangat penyayang, tidak sekalipun bliau hasad kepada seseorang dan tidka juga menyakitinya. Beliau tidak pernah mencerca dan berlaku dengki kepada siapapun juga. Saya sendiri adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai beliau.”
Beliau juga mengatakan, “Dan sebagian besa ryang tampak pada diri beliau adalah keaikan dan akhlak yang shalih.”

Karya Ilmiah beliau

Karya ilmiyah syaikhul islam Ibnul Qayyim sangatlah banyak dan dalam berbagai jenis disiplin keilmuan. Asy-Syaikh al-‘Allamah Bakr bin Abu Zaid mengumpulkan karya ilmiyah beliau dan mencapai 96 judul, diantaranya yang populer,
  1. Kitab Zaad al-Ma’ad al-hadyu ilaa Sabiil ar-Rasyaad.
  2. A’laam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamiin.
  3. Ahkaam Ahli adz-Dzimmah.
  4. Madaarij as-Saalikin.
  5. Tuhfah al-Maudud bi-Ahkaam al-mauluud.
  6. Ath-Thuruq al-Hukmiyah fii as-Siyasah asy-Syar’iyah.
  7. Ighatsah al-Lahafaan.
  8. Ash-Shawaa`iq al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyah wal-Mu’aththilah.
  9. Al-Furusiyah.
  10. Ash-shalah wa Hukmu Taarikihaa.
  11. Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi al-Mu’aththliah wal-Jahmiyah.
  12. Syifa`u al-‘alil fii Masaa`il al-Qadha` wal-Qadar wal-Hikmah wat-Ta’liil.
  13. Al-Kafiyah asy-Syafiyah fii al-Intishar lil-Firqah an-Najiyah.
  14. ‘Iddah ash-Shabirina wa Dzakhirah asy-Syakirin.
  15. Ad-Daa`u wad-Dawaa’u
  16. Bada’I al-Fawaa`id.
  17. Al-Fawaa`id
  18. Miftaah Daar as-Sa’adah
  19. Al-Manaar al-Muniif fii ash-Shahih wadh-Dha’if.
  20. Tahdzib Sunan Abi Dawud wa iidhah Muskilaatihi wa ‘Ilalihi.
  21. Hidayah al-Hiyaara fii Ajwibah al-Yahuud wan-Nashaara.
  22. Dan masih banyak lagi lainnya.
Wafat beliau

Beliau wafat pada malam kamis pada tanggal tiga belas Rajab pada sat adzan isya tahun 751 H. Dimana beliau telah memasuki usia enam puluh tanuh. Dan beliau dishalatkan pada keesokan harinya di masjid jami’ al-Umawi setelah shalat dhuhur. Dan beliau dimakamkan di pemakaman al-Bab ash-shaghir disambing makam ibnuda beliau. Pemakaman beliau turut dipersaksikan oleh para qadhi, kaum terkemuka, tokoh-tokoh agama dan pemerintahan serta orang-orang yang shalih dan khalayak ramai. Semoga Allah merahmati beliau dan melapangkan kediaman beliau dialam berikutnya.

Ditulis oleh : Al-Ustadz Rishky Abu Zakariya melalui Ahlussunnah-jakarta.com

Publish ulang dan penataan bahasa www.KisahMuslim.com
Add to Cart View detail

Most View Product

Contact Online

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. TOKO SEPATU & SERVER PULSA "ANIS" TEGAL - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger