Welcome to our online store

Selasa, 24 Juni 2014

Potret Suami Ideal Dalam Rumah Tangga

Menjadi suami dan bapak ideal dalam rumah tangga? Tentu ini dambaan setiap lelaki, khususnya yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir. Dan tentu saja ini tidak mudah kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala.
Sosok kepala rumah tangga ideal yang sejati, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:
«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى»
Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku1.

Karena kalau bukan kepada anggota keluarganya seseorang berbuat baik, maka kepada siapa lagi dia akan berbuat baik? Bukankah mereka yang paling berhak mendapatkan kebaikan dan kasih sayang dari suami dan bapak mereka karena kelemahan dan ketergantungan mereka kepadanya?2. Kalau bukan kepada orang-orang yang terdekat dan dicintainya seorang kepala rumah tangga bersabar menghadapi perlakuan buruk, maka kepada siapa lagi dia bersabar?.
Imam al-Munawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat argumentasi yang menunjukkan (wajibnya) bergaul dengan baik terhadap istri dan anak-anak, terlebih lagi anak-anak perempuan, (dengan) bersabar menghadapi perlakuan buruk, akhlak kurang sopan dan kelemahan akal mereka, serta (berusaha selalu) menyayangi mereka”3.
Potret Kepala Keluarga Ideal Dalam Al-Qur-an
Allah Ta’ala menggambarkan sosok dan sifat kepala keluarga ideal dalam beberapa ayat al-Qur-an, di antaranya dalam firman-Nya:
{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ}
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS an-Nisaa’: 34).
Inilah sosok suami ideal, dialah lelaki yang mampu menjadi pemimpin dalam arti yang sebenarnya bagi istri dan anak-anaknya. Memimpin mereka artinya mengatur urusan mereka, memberikan nafkah untuk kebutuhan hidup mereka, mendidik dan membimbing mereka dalam kebaikan, dengan memerintahkan mereka menunaikan kewajiban-kewajiban dalam agama dan melarang mereka dari hal-hal yang diharamkan dalam Islam, serta meluruskan penyimpangan yang ada pada diri mereka4.
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:
{وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا. وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا}
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia (selalu) memerintahkan kepada keluarganya untuk (menunaikan) shalat dan (membayar) zakat, dan dia adalah seorang yang di ridhoi di sisi Allah” (QS Maryam: 54-55).
Inilah potret hamba yang mulia dan kepala rumah tangga ideal, Nabi Ismail ‘alaihissalam, sempurna imannya kepada Allah, shaleh dan kuat dalam menunaikan ketaatan kepada-Nya, sehingga beliau ‘alaihissalam meraih keridhaan-Nya. Tidak cukup sampai di situ, beliau ‘alaihissalam juga selalu membimbing dan memotivasi anggota keluarganya untuk taat kepada Allah, karena mereka yang paling pertama berhak mendapatkan bimbingannya5.
Demukian pula dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:
{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا}
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam (panutan) bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqaan: 74).
Dalam ayat ini Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang beriman karena mereka selalu mendokan dan mengusahakan kebaikan dalam agama bagi anak-anak dan istri-istri mereka. Inilah makna “qurratul ‘ain” (penyejuk hati) bagi orang-orang yang beriman di dunia dan akhirat6.
Imam Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata: “Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman pada diri istri, saudara dan orang-orang yang dicintainya ketaatan (mereka) kepada Allah. Demi Allah, tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata (hati) seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya taat kepada Allah Ta’ala7.
Beberapa Sifat Kepala Rumah Tangga Ideal
1. Shalih Dan Taat Beribadah
Keshalehan dan ketakwaan seorang hamba adalah ukuran kemuliaannya di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:
{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ}
Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” (QS al-Hujuraat: 13).
Seorang kepala rumah tangga yang selalu taat kepada Allah Ta’ala akan dimudahkan segala urusannya, baik yang berhubungan dengan dirinya sendiri maupun yang berhubungan dengan anggota keluarganya. Allah Ta’ala berfirman:
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ}
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. ath-Thalaaq:2-3).
Dalam ayat berikutnya Allah berfirman:
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً}
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya” (QS. ath-Thalaaq:4).
Artinya: Allah Ta’ala akan meringankan dan memudahkan (semua) urusannya, serta menjadikan baginya jalan keluar dan solusi yang segera (menyelesaikan masalah yang dihadapinya)8.
Bahkan dengan ketakwaan seorang kepala rumah tangga, dengan menjaga batasan-batasan syariat-Nya, Allah Ta’ala akan memudahkan penjagaan dan taufik-Nya untuk dirinya dan keluarganya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
Jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah maka kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu9.
Makna “menjaga (batasan-batasan/syariat) Allah” adalah menunaikan hak-hak-Nya dengan selalu beribadah kepada-Nya, serta menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya10. Dan makna “kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu”: Dia akan selalu bersamamu dengan selalu memberi pertolongan dan taufik-Nya kepadamu11.
Penjagaan Allah Ta’ala dalam hadits ini juga mencakup penjagaan terhadap anggota keluarga hamba yang bertakwa tersebut12.
2. Bertanggung Jawab Memberi Nafkah Untuk Keluarga
Menafkahi keluarga dengan benar adalah salah satu kewajiban utama seorang kepala keluarga dan dengan inilah di antaranya dia disebut pemimpin bagi anggota keluarganya. Allah Ta’ala berfirman:
{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ}
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS an-Nisaa’: 34).
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:
{وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ}
Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” (QS al-Baqarah: 233).
Dalam hadits yang shahih, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ditanya tentang hak seorang istri atas suaminya, beliau  bersabda: “Hendaknya dia memberi (nafkah untuk) makanan bagi istrinya sebagaimana yang dimakannya, memberi (nafkah untuk) pakaian baginya sebagaimana yang dipakainya, tidak memukul wajahnya, tidak mendokan keburukan baginya (mencelanya), dan tidak memboikotnya kecuali di dalam rumah (saja)13.
Tentu saja maksud pemberian nafkah di sini adalah yang mencukupi dan sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan dan tidak kurang. Karena termasuk sifat hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa adalah mereka selalu mengatur pengeluaran harta mereka agar tidak terlalu boros adan tidak juga kikir. Allah Ta’ala berfirman:
{وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا}
Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS al-Furqaan:67).
Artinya: mereka tidak mubazir (berlebihan) dalam membelanjakan harta sehingga melebihi kebutuhan, dan (bersamaan dengan itu) mereka juga tidak kikir terhadap keluarga mereka sehingga kurang dalam (menunaikan) hak-hak mereka dan tidak mencukupi (keperluan) mereka, tetapi mereka (bersikap) adil (seimbang) dan moderat (dalam pengeluaran), dan sebaik-baik perkara adalah yang moderat (pertengahan)14.
Ini semua mereka lakukan bukan karena cinta yang berlebihan kepada harta, tapi kerena mereka takut akan pertanggungjawaban harta tersebut di hadapan Allah Ta’ala di hari kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya15.
3. Memperhatikan Pendidikan Agama Bagi Keluarga
Ini adalah kewajiban utama seorang kepala rumah tangga terhadap anggota keluarganya. Allah Ta’ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).
Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata: “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu sendiri dan keluargamu”16.
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya”17.
Dalam sebuah hadits shahih, ketika shahabat yang mulia, Malik bin al-Huwairits radhiallahu’anhu dan kaumnya mengunjungi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam selama dua puluh hari untuk mempelajari al-Qur-an dan sunnah beliau, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepada mereka: “Pulanglah kepada keluargamu, tinggallah bersama mereka dan ajarkanlah (petunjuk Allah Ta’ala) kepada mereka18.
4. Pembimbing Dan Motivator
Seorang kepala keluarga adalah pemimpin dalam rumah tangganya, ini berarti dialah yang bertanggung jawab atas semua kebaikan dan keburukan dalam rumah tangganya dan dialah yang punya kekuasaan, dengan izin Allah Ta’ala, untuk membimbing dan memotivasi anggota keluarganya dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya…seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka19.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mencontohkan sebaik-baik teladan sebagai pembimbing dan motivator. Dalam banyak hadits yang shahih, beliau Shallallahu’alaihi Wasallam selalu memberikan bimbingan yang baik kepada orang-orang yang berbuat salah, sampaipun kepada anak yang masih kecil.
Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam pernah melihat seorang anak kecil yang berlaku kurang sopan ketika makan, maka beliau Shallallahu’alaihi Wasallam menegur dan membimbing anak tersebut, beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (ketika hendak makan), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah (makanan) yang ada di depanmu20.
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah melarang cucu beliau, Hasan bin ‘Ali radhiallahu’anhu memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan masih kecil, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?21.
Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut22.
Memotivasi anggota keluarga dalam kebaikan juga dilakukan dengan mencontohkan dan mengajak anggota keluarga mengerjakan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dalam Islam.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari lalu dia melaksanakan shalat (malam), kemudian dia membangunkan istrinya, kalau istrinya enggan maka dia akan memercikkan air pada wajahnya…23.
Teladan baik yang dicontohkan seorang kepala keluarga kepada anggota keluarganya merupakan sebab, setelah taufik dari Allah Ta’ala untuk memudahkan mereka menerima nasehat dan bimbingannya. Sebaliknya, contoh buruk yang ditampilkannya merupakan sebab besar jatuhnya wibawanya di mata mereka.
Imam Ibnul Jauzi membawakan sebuah ucapan seorang ulama salaf yang terkenal, Ibrahim al-Harbi24. Dari Muqatil bin Muhammad al-’Ataki, beliau berkata: Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim al-Harbi, maka beliau bertanya kepada ayahku: “Mereka ini anak-anakmu?”. Ayahku menjawab: “Iya”. (Maka) beliau berkata (kepada ayahku): “Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka”25.
5. Bersikap Baik Dan Sabar Dalam Menghadapi Perlakuan Buruk Anggota Keluarganya
Seorang pemimpin keluarga yang bijak tentu mampu memaklumi kekurangan dan kelemahan yang ada pada anggota keluarganya, kemudian bersabar dalam menghadapi dan meluruskannya.
Ini termasuk pergaulan baik terhadap keluarga yang diperintahkan dalam firman Allah Ta’ala:
{وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا}
Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS an-Nisaa’: 19).
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas, maka jika kamu meluruskannya (berarti) kamu mematahkannya, dan kalau kamu membiarkannya maka dia akan terus bemgkok, maka berwasiatlah (untuk berbuat baik) kepada kaum wanita26.
Seorang istri bagaimanapun baik sifat asalnya, tetap saja dia adalah seorang perempuan yang lemah dan asalnya susah untuk diluruskan, karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, ditambah lagi dengan kekurangan pada akalnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“إن المرأة خلقت من ضلع لن تستقيم لك على طريقة”
Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), (sehingga) dia tidak bisa terus-menerus (dalam keadaan) lurus jalan (hidup)nya27.
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyifati perempuan sebagai:
“…ناقصات عقل ودين”
“…Orang-orang yang kurang (lemah) akal dan agamanya28.
Maka seorang istri yang demikian keadaannya tentu sangat membutuhkan bimbingan dan pengarahan dari seorang laki-laki yang memiliki akal, kekuatan, kesabaran, dan keteguhan pendirian yang melebihi perempuan29. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala menjadikan kaum laki-laki sebagai pemimpin dan penegak urusan kaum perempuan.
Seorang laki-laki yang beriman tentu akan selalu menggunakan pertimbangan akal sehatnya ketika menghadapi perlakuan kurang baik dari orang lain, untuk kemudian dia berusaha menasehati dan meluruskannya dengan cara yang baik dan bijak, terlebih lagi jika orang tersebut adalah orang yang terdekat dengannya, yaitu istri dan anak-anaknya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah seorang lelaki beriman membenci seorang wanita beriman, kalau dia tidak menyukai satu akhlaknya, maka dia akan meridhai/menyukai akhlaknya yang lain30.
6. Selalu Mendoakan Kebaikan Bagi Anak Dan Istrinya
Termasuk sifat hamba-hamba Allah Ta’ala yang beriman adalah selalu mendoakan kebaikan bagi dirinya dan anggota keluarganya. Allah Ta’ala berfirman:
{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا}
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam (panutan) bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqaan: 74).
Dalam hadits yang shahih, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan tentang kewajiban seorang suami terhadap istrinya, diantaranya: “…Dan tidak mendokan keburukan baginya31.
Maka kepala keluarga yang ideal tentu akan selalu mengusahakan dan mendoakan kebaikan bagi anggota keluarganya, istri dan anak-anaknya, bahkan inilah yang menjadi sebab terhiburnya hatinya, yaitu ketika menyaksikan orang-orang yang dicintainya selalu menunaikan ketaatan kepada Allah Ta’ala32.
Penutup
Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi orang-orang yang beriman, khusunya para kepala keluarga, untuk menghiasi dirinya dengan akhlak yang terpuji ini, untuk menjadikan mereka meraih kemuliaan dan kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat bersama anggota keluarga mereka, dengan taufik dari Allah Ta’ala.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 9 Rajab 1434 H
Catatan Kaki
1 HR at-Tirmidzi (no. 3895) dan Ibnu Hibban (no. 4177), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani.
2 Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (4/273).
3 Kitab “Faidul Qadiir” (3/498).
4 Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/653) dan “Taissirul kariimir Rahmaan” (hal. 177)..
5 Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/169) dan “Taissirul kariimir Rahmaan” (hal. 496).
6 Lihat kitab “Fathul Qadiir” (4/131).
7 Dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (3/439).
8 Tafsir Ibnu Katsir (4/489).
9 HR at-Tirmidzi (no. 2516), Ahmad (1/293) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Shahihul jaami’ish shagiir” (no. 7957).
10 Lihat penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam “Jaami’ul uluumi wal hikam” (hal. 229).
11 Ibid (hal. 233).
12 Ibid.
13 HR Abu Dawud (no. 2142) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani.
14 Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/433).
15 HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.
16 Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
17 Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 640).
18 HSR al-Bukhari (no. 602).
19 HSR al-Bukhari (no. 2278) dan Muslim (no. 1829).
20 HSR al-Bukhari (no. 5061) dan Muslim (no. 2022).
21 HSR al-Bukhari (no. 1420) dan Muslim (no. 1069).
22 Fathul Baari (3/355).
23 HR Abu Dawud (no. 1308) dan Ibnu Majah (no. 1336), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.
24 Beliau adalah Imam besar, penghafal hadits, Syaikhul Islam Ibrahim bin Ishak bin Ibrahim bin Basyir al-Baghdadi al-Harbi (wafat 285 H), biografi beliau dalam “Siyaru a’alamin nubala‘” (13/356).
25 Shifatush shafwah (2/409).
26 HSR al-Bukhari (no. 3153) dan Muslim (no. 1468).
27 HSR Muslim (no. 1468).
28 HSR al-Bukhari (no. 298) dan Muslim (no. 132).
29 Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 101).
30 HSR Muslim (no. 1469).
31 HR Abu Dawud (no. 2142) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani.
32 Sebagaimana yang telah kami nukil di atas tentang makna ayat ini.
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, MA.
Artikel Muslim.Or.Id
Add to Cart View detail

Rahasia Rumput Tetangga Lebih Hijau

Sobat, anda pernah melihat istri tetangga dan menganggapnya cantik sehingga memikat hati anda? Atau barang kali anda merasa bahwa “ladang tetangga” senantiasa nampak lebih hijau nan menyegarkan dibanding “ladang anda “sendiri? Pernahkah anda berpikir, mengapa semua itu bisa terjadi? 
Ketahulah sobat! Sejatinya yang menyebabkan anda begitu tergoda dan “ladang tetangga” nampak lebih hijau dibanding “ladang” sendiri adalah nafsu birahi setan. Setan menipu pandangan anda dan menggoyang-goyang jantung anda sehingga setiap melihat “ladang tetangga” atau wanita yang tidak halal spontan jantung anda terasa berdebar debar. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن المرأة عورة، فإذا خرجت استشرفها الشيطان
Sejatinya wanita itu adalah aurat, sehingga setiap kalia mereka keluar dari rumahnya, maka setan pasti mengesankan mereka nampak begitu cantik rupawan” (HR. Ahmad, Tirmidzi, ia berkata: “hasan gharib”)
Inilah yang terjadi, jantung anda berdebar-debar karena sedang digoyang goyang oleh setan sehingga darah anda mengalir dengan deras dan nafsu andapun bangkit. Segeralah membaca ta’awudz (memohon perlindungan kepada Allah) dari godaan setan dan segera palingkan pandangan anda setiap melihat wanita yang tidak halal, agar setan tidak terus menggoyang-goyang jantung anda.
Dan kalau sudah menikah, segera pulang karena istri anda memiliki semua yang dimiliki oleh wanita yang anda anggap aduhai tersebut. Bahkan bisa jadi istri anda lebih spesial dibanding wanita tersebut.

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ الَّتِي تُعْجِبُهُ فَلْيَرْجِعْ إِلَى أَهْلِهِ حَتَّى يَقَعَ بِهِمْ، فَإِنَّ ذَلِكَ مَعَهُمْ
Bila engkau melihat seorang wanita yang menjadikanmu tertegun kagum maka segeralah engkau pulang menjumpai istrimu dan lampiaskanlah hasratmu padanya, karena semua yang ada pada wanita tersebut ada pula pada istrimu” (HR. Ibnu Hibban dan lainnya, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami).

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA.
Artikel Muslim.Or.Id Add to Cart View detail

Menyikapi Perselisihan Dalam Penentuan Awal Dan Akhir Ramadhan


Di negeri yang kita cintai ini, hampir setiap tahunnya datangnya bulan suci Ramadhan dibarengi dengan adanya perselisihan diantara kaum muslimin mengenai penentuan awal dan juga akhir Ramadhan. Sebagian orang menggunakan metode ru’yatul hilal dan sebagian lagi lebih mempercayai hisab falaki atau perhitungan astronomis. Debat dan diskusi hampir selalu bergulir setiap tahunnya, bahkan lebih dari itu, sebagian orang menjadikan masalah ini sebagai patokan wala’ wal bara’, masing-masing mengunggulkan golongan dan ormasnya. Sebagiannya lagi menjadikan hal ini sebagai bahan pertengkaran dan caci-maki. Bagaimana sebenarnya sikap yang benar?
Mengenal Ijma’

Sebelumnya membahas inti permasalahan, sudah semestinya kita membahas sedikit tenttang ijma’, karena memiliki kaitan erat dalam persoalan ini. Al Ijma’ (الإجماع) secara bahasa artinya kesepakatan. Sedangkan secara istilah,
اتفاق مجتهدي عصرٍ من العصور من أمة محمد – صلى الله عليه وسلم – بعد وفاته على أمر ديني
“Ijma’ adalah kesepakatan para ulama mujtahid dari beberapa generasi umat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam setelah wafatnya beliau dalam masalah agama” (lihat Ma’alim Ushul Fiqh, 156).
Para ulama sepakat bahwa ijma’ adalah hujjah (dalil ) dalam syari’at yang wajib diikuti dan diamalkan. Diantara dalil yang mendasari bahwa ijma’ adalah dalil diantaranya,
  • firman Allah Ta’ala:
    وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
    Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An Nisa: 115)
    Inti pendalilan dari ayat ini adalah pada kalimat وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ (dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin). Ibnu Katsir menyatakan: “sifat ini dengan sifat yang pertama (menentang rasul) saling berkonsekuensi. Namun yang termasuk dalam sifat ini terkadang bentuknya berupa penyelisihan terhadap nash syar’i atau terkadang berupa penyelisihan terhadap hal yang sudah disepakati oleh umat yang mengikut jalan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Jika telah diketahui bahwa mereka bersepakat dalam suatu hal maka dalam kesepakatan itu ada al ishmah, yaitu kemustahilan dari kesalahan. Ini pemuliaan terhadap mereka dan pengagungan terhadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Hadits-hadits yang berbicara masalah ini banyak sekali…” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/412-413).
  • firman Allah Ta’ala:
    كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بالله
    Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Al Imran: 110).
    Allah Ta’ala menyifati umat Muhammad sebagai umat yang menyuruh pada semua kebaikan dan mengingkari semua kemungkaran. Jika umat ini bersepakat untuk menyatakan suatu kesesatan maka Allah tidak akan menyifati demikian. Sehingga apa-apa yang disepakati oleh umat ini adalah sebuah kebenaran. Selain itu umat ini juga tidak akan mungkin bersepakat dalam kesesatan (Ma’alim Ushul Fiqh, 161).
  • Sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
    عليكمْ بالجماعةِ، وإياكم والفرقةَ، فإنَّ الشيطانَ مع الواحدِ وهو من الاثنينِ أبعدُ . من أراد بحبوحةَ الجنةِ فلْيلزمِ الجماعةَ
    Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah” (HR. Tirmidzi no.2165, ia berkata: “Hasan shahih gharib dengan sanad ini”)
    Hadits ini memerintahkan kita untuk berpegang pada Al Jama’ah. Dan diantara makna Al Jama’ah adalah kaum muslimin jika sepakat pada suatu perkara. Akan dirinci nanti.
  • Sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
    إن أمتي لا تجتمع على ضلالة
    Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan” (HR. At Tirmidzi 2166, ia berkata: ‘hasan gharib’).
    Hadits ini jelas menunjukkan bahwa kesepakatan umat adalah kebenaran.
Perihal ketetapan ijma’ sebagai dalil yang dipakai dalam syariat, cukup gamblang dan banyak dijelaskan di buku-buku ushul fiqih semua madzhab. Maka ijma adalah dalil, dan seorang mukmin tidak boleh menyelisihi dalil. Bahkan jika merujuk pada surat An Nisa ayat 115, keras sekali ancaman bagi orang yang menyelisihi ijma. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
وإذا ثبت إجماع الأمة على حكم من الأحكام لم يكن لأحد أن يخرج عن إجماعهم
“Jika telah diketahui secara valid bahwa umat ini menyepakati hukum suatu perkara, maka tidak diperkenankan bagi siapa pun untuk keluar dari ijma tersebut” (Majmu’ Fatawa 10/20, dinukil dari Ma’alim Ushul Fiqh, 173)
Lalu apakah boleh ulama di zaman sekarang menyelisihi ijma para ulama terdahulu yang sudah disepakati? Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjawab: “hal-hal yang sudah terdapat ijma para ulama terdahulu tidak boleh diselisihi bahkan wajib berdalil dengannya. Adapun masalah-masalah yang belum ada ijma sebelumnya maka ulama zaman sekarang dapat ber-ijtihad dalam hal tersebut. Jika mereka bersepakat, maka kita bisa katakan bahwa ulama zaman sekarang telah sepakat dalam hal ini dan itu” (sumber lihat di sini).

Para Ulama Ijma’ Mengenai Penentuan Awal Dan Akhir Ramadhan

Syariat telah menetapkan bahwa untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan itu dengan 2 cara: ru’yatul hilal atau menggenapkan Sya’ban 30 hari. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
صوموا لرؤيَتِهِ وأفطِروا لرؤيتِهِ ، فإنْ غبِّيَ عليكم فأكملوا عدةَ شعبانَ ثلاثينَ
Berpuasalah karena melihatnya (hilal), berbukalah karena melihatnya (hilal), jika penglihatan kalian terhalang maka sempurnakan bulan Sya’ban jadi 30 hari” (HR. Bukhari 1909, Muslim 1081)
Dan para ulama telah ber-ijma’ mengenai hal ini. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab beliau Fathul Baari (4/123) mengatakan:
وقال ابن الصباغ أما بالحساب فلا يلزمه بلا خلاف بين أصحابنا قلت ونقل بن المنذر قبله الإجماع على ذلك فقال في الأشراف صوم يوم الثلاثين من شعبان إذا لم ير الهلال مع الصحو لا يجب بإجماع الأمة
“Ibnu As Sabbagh berkata: ‘Adapun metode hisab, tidak ada ulama mazhab kami (Maliki) yang membolehkannya tanpa adanya perselisihan’. Sebelum beliau, juga telah dinukil dari Ibnul Mundzir dalam Al Asyraf: ‘Puasa di hari ketiga puluh bulan Sya’ban tidaklah wajib jika hilal belum terlihat ketika cuaca cerah, menurut ijma para ulama‘”
Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (25/132) berkata:
فإنا نعلم بالاضطرار من دين الإسلام أن العمل في رؤية هلال الصوم أو الحج أو العدة أو الإبلاء أو غير ذلك من الأحكام المعلقة بالهلال بخبر الحاسب أنه يرى أو لا يرى لا يجوز . والنصوص المستفيضة عن النبي صلى الله عليه وسلم بذلك كثيرة . وقد أجمع المسلمون عليه . ولا يعرف فيه خلاف قديم أصلاً ولا خلاف حديث ؛ إلا أن بعض المتأخرين من المتفقهة الحادثين بعد المائة الثالثة زعم أنه إذا غم الهلال جاز للحاسب أن يعمل في حق نفسه بالحساب فإن كان الحساب دل على الرؤية صام وإلا فلا . وهذا القول وإن كان مقيداً بالإغمام ومختصاً بالحاسب فهو شاذ مسبوق بالإجماع على خلافه . فأما اتباع ذلك في الصحو أو تعليق عموم الحكم العام به فما قاله مسلم ا.هـ
“Kita semua, secara gamblang sudah mengetahui bersama bahwa dalam Islam, penentuan awal puasa, haji, iddah, batas bulan, atau hal lain yang berkaitan dengan hilal, jika digunakan metode hisab dalam kondisi hilal terlihat maupun tidak, hukumnya adalah haram. Banyak nash dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mendasari hal ini. Para ulama pun telah bersepakat akan hal ini. Tidak ada perselisihan diantara para ulama terdahulu maupun di masa sesudahnya, kecuali sebagian ulama fiqih mutaakhirin setelah tahun 300H yang menganggap bolehnya menggunakan hisab jika hilal tidak nampak, untuk keperluan diri sendiri. Menurut mereka, jika sekiranya perhitungan hisab sesuai dengan ru’yah maka mereka puasa, jika tidak maka tidak. Pendapat ini, jika memang hanya digunakan ketika hilal tidak nampak dan hanya untuk diri sendiri, ini tetaplah merupakan pendapat nyeleneh yang tidak teranggap karena sudah adanya ijma’. Adapun menggunakan perhitungan hisab secara mutlak, padahal cuaca cerah, dan digunakan untuk masyarakat secara umum, tidak ada seorang ulama pun yang berpendapat demikian”.
Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (4/127) juga mengatakan:
وقد ذهب قوم إلى الرجوع إلى أهل التسيير في ذلك وهم الروافض، ونقل عن بعض الفقهاء موافقتهم. قال الباجي: وإجماع السلف الصالح حجة عليهم ا.هـ
“Sebagian orang ada yang merujuk pada para ahlut tas-yir (penjelajah) dalam masalah ini, yaitu kaum syi’ah rafidhah. Sebagian ahli fiqih pun ada yang membeo kepada mereka. Al Baaji berkata: ‘Ijma salafus shalih sudah cukup sebagai bantahan bagi mereka’”.
Dan masih banyak nukilan ijma’ mengenai hal ini. Menunjukkan bahwa masalah ini bukanlah masalah yang diperselisihkan para ulama, atau dengan kata lain bukan masalah khilafiyah diantara para ulama. Dengan demikian sebagaimana sudah dijelaskan di atas mengenai wajibnya berpegang pada ijma’, hendaknya setiap muslim tidak menyelisihi ijma’ para ulama dalam masalah penentuan awal dan akhir Ramadhan.

Perselisihan Itu Banyak, Solusinya Kembali Kepada Dalil

Ketahuilah bahwa khilafiyah (perselisihan) dalam masalah agama itu banyak, tidak hanya masalah penentuan awal Ramadhan saja. Dari segi siapa yang berselisih, khilafiyah dapat kita kelompokkan menjadi 2:
  1. Khilafiyah diantara ulama.
  2. Khilafiyah diantara orang awwam (umat secara umum)
Sehingga kita sering dapati masalah-masalah yang para ulama tidak berselisih tentangnya, namun orang-orang awam memperselisihkannya. Demikian juga masalah-masalah yang sudah terdapat dalil yang terang benderang, namun ternyata di tengah masyarakat menjadi perselisihan juga.
Dengan demikian masalah khilafiyah itu menjadi sangat banyak, karena bagi orang awam hampir tidak ada masalah yang lepas dari perselisihan. Bahkan perkara-perkara yang sudah diterima secara luas kebenarannya pun masih ada saja segelintir orang yang memperselisihkan. Contohnya mengenai wajibnya shalat dan wajibnya memakai jilbab, ada saja sebagian orang awam yang memperselisihkannya. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا ، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين تمسكوا بها ، وعضوا عليها بًالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة
Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, juga agar mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun ia budak Habasyah. Karena barangsiapa yang hidup sepeninggalku nanti akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa Ar Rasyidin yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Peganglah dengan erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham. Dan hendaknya kalian menjauhi perkara yang diada-adakan, karena yang diada-adakan dalam agama itu bid’ah dan semua bid’ah itu sesat” (HR. Abu Daud, 4607, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2735)
Ternyata perselisihan yang banyak ini sudah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, dan beliau sudah memberikan solusinya. Allah Ta’ala juga berfiman:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59)
Jika demikian solusi yang ditawarkan oleh Allah dan Rasul-Nya ketika terjadi perselisihan yaitu :
  1. Kembali kepada Al Qur’an
  2. Kembali kepada sunnah Nabi melalui hadits-haditsnya,
  3. Kembali kepada pemahaman para Khulafa Ar Rasyidin dan juga para sahabat Nabi
  4. Meninggalkan perkara bid’ah
Maka, terkait perselisihan kaum muslimin dalam masalah penentuan awal dan akhir Ramadhan, solusinya adalah kembali kepada dalil-dalil syar’i sesuai apa yang dipahami oleh para sahabat Nabi dan disepakati oleh para ulama Islam yang memerintahkan untuk menggunakan ru’yatul hilal dalam penentuan awal dan akhir ramadhan. Jadi, bukan kembali kepada keyakinan masing-masing, bukan kembali pada pendapat ormas, pendapat partai atau pendapat tokoh agama. Setiap mukmin hendaknya tasliim, menerima dengan lapang dada dalil-dalil yang telah ditetapkan syariat dalam masalah ini serta menerima dengan lapang dada ijma-nya para ulama Islam.

Mentoleransi Semua Pendapat, Demi Persatuan?

Sebagian orang mengajak kaum muslimin untuk tidak mengindahkan perselisihan yang ada dan lebih mengedepankan persatuan secara fisik. Dengan kata lain, mereka menginginkan apapun keyakinan dan penyimpangan yang ada di tengah kaum muslimin, entah benar atau salah, tidak perlu di gugat dan tidak perlu dipermasalahkan demi terciptanya persatuan secara fisik. Tentu bukan demikian persatuan yang diajarkan oleh Islam. Bahkan demikianlah persatuan ala Yahudi. Allah Ta’ala menceritakan tentang kaum Yahudi:
بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.  Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti” (QS. Al Hasyr: 14).
Tentu saja persatuan secara fisik itu perlu dan penting. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (QS. Ash Shaf: 4)
Namun persatuan yang Islami adalah persatuan yang di dalamnya ada sikap saling menasehati, karena Islam adalah agama nasehat dan mengajarkan untuk mengingkari kemungkaran. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ن رأى مِنكُم مُنكرًا فليغيِّرهُ بيدِهِ ، فإن لَم يَستَطِع فبِلسانِهِ ، فإن لم يستَطِعْ فبقَلبِهِ . وذلِكَ أضعَفُ الإيمانِ
Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim 49)
Andai berbagai keyakinan batil dan penyimpangan syariat ditengah umat kita toleransi, tidak diingkari, tidak diperbaiki, demi persatuan secara fisik, maka mau kita kemanakan hadits Nabi yang mulia ini?
Sesama muslim adalah auliya bagi muslim yang lain. Namun renungkanlah firman Allah Ta’ala berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi wali bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar” (Qs. At Taubah: 71)
Auliya dalam bentuk jamak dari wali (ولي) yaitu orang yang lebih dicenderungi untuk diberikan pertolongan, rasa sayang dan dukungan (Aysar At Tafasir, 305). Lihatlah dalam ayat ini, sesama muslim adalah auliya, namun mereka juga saling menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang munkar.

Mengikuti Ijma Dan Taat Penguasa, Tuntutan Persatuan Kaum Muslimin

Persatuan yang diajarkan Islam adalah bersatu dalam Al Jama’ah, yaitu bersatunya umat Islam dalam kebenaran. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد .من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة .ن سرته حسنته وساءته سيئته فذلكم المؤمن
Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min” (HR. Tirmidzi no.2165, ia berkata: “Hasan shahih gharib dengan sanad ini”)
Al Jama’ah bukanlah nama sekte, nama ormas, nama partai atau madzhab tertentu. Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu, menafsirkan istilah Al Jama’ah:
الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك
“Al Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendirian” (Dinukil dari Ighatsatul Lahfan Min Mashayid Asy Syaithan, 1/70)
Dan salah satu makna dan ciri dari Al Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti ijma’ dan bersatu dibawah penguasa kaum muslimin yang sah. Dengan kata lain, mengikuti ijma’ dan taat pada penguasa adalah tuntutan untuk mewujudkan persatuan yang benar. Ini dijelaskan oleh Imam Asy Syathibi rahimahullah: “Para ulama berbeda pendapat mengenai makna Al Jama’ah yang ada dalam hadits-hadits dalam lima pendapat:
  1. As sawadul a’zham dari umat Islam. Termasuk dalam makna ini para imam mujtahid, para ulama, serta ahli syariah yang mengamalkan ilmunya. Adapun selain mereka juga dimasukkan dalam makna ini karena diasumsikan hanya mengikuti orang-orang tadi”
  2. Para imam mujtahid. Dalam makna ini, tidak termasuk orang-orang yang bukan imam mujtahid karena mereka hakikatnya adalah ahli taqlid. Maka barangsiapa yang beramal dengan keluar dari pendapat para imam mujtahid, lalu mati, maka matinya sebagai bangkai jahiliyah. Dalam makna ini tidak termasuk juga seorang pun dari ahlul bid’ah (artinya, adanya pendapat yang beda dari ahli bidah tidaklah mempengaruhi keabsahan ijma, ed).
  3. Para sahabat Nabi saja. Makna ini sesuai dengan riwayat dari Nabi yang menafsirkan makna Al Jama’ah, yaitu:
    ما أنا عليه وأصحابي
    Siapa saja yang berpegang padaku dan para sahabatku
  4. Umat Islam jika bersepakat dalam sebuah perkara (baca: ijma’). Maka wajib bagi orang-orang yang menyimpang untuk mengikuti mereka. Asy Syathibi lalu memberi catatan: “Makna ini sebenarnya kembali pada makna kedua (para imam mujtahid), dan berkonsekuensi sama seperti konsekuensi dari makna kedua. Atau kembali pada makna pertama, dan inilah yang lebih nampak. Dan secara makna pun, sama seperti makna pertama. Karena sudah pasti butuh peran para imam mujtahid di antara mereka barulah bisa terwujud umat tidak akan bersatu dalam kesesatan, bahkan merekalah golongan yang selamat”
  5. Pendapat yang dipilih Imam Ath Thabari, yaitu bahwa Al Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin yang berkumpul di bawah pemerintahan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan ummat untuk berpegang pada pemerintahnya dan melarang memecah belah apa yang telah dipersatukan oleh umat sebelumnya.
Dengan demikian, jika memang tulus ikhlas ingin mewujudkan persatuan kaum muslimin dan menjaga keutuhan kaum muslimin dalam masalah penentuan awal dan akhir Ramadhan, hendaknya kaum muslimin semuanya tasliim (berlapang dada) untuk mengikuti ijma’ ulama dalam masalah ini.
Selain itu, hendaknya kaum muslimin mendengar dan taat kepada pemerintah kaum Muslimin yang sah selama dalam perkara yang ma’ruf. Dan alhamdulillah pemerintah kita dalam hal ini sejalan dengan ijma’ ulama. Dan para ulama juga menjelaskan bahwa penentuan awal dan akhir Ramadhan adalah urusan penguasa, keputusannya di tangan penguasa. Berdasarkan hadits:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
Hari puasa adalah hari ketika orang-orang berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika orang-orang menyembelih” (HR. Tirmidzi 632, Ad Daruquthni 385)
As Sindi menjelaskan, “Nampak dari hadits ini bahwa urusan waktu puasa, lebaran dan idul adha, bukanlah urusan masing-masing individu, dan tidak boleh bersendiri dalam hal ini. Namun ini adalah urusan imam (pemerintah) dan al jama’ah. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk tunduk kepada imam dan al jama’ah dalam urusan ini. Dari hadits ini juga, jika seseorang melihat hilal namun imam menolak persaksiannya, maka hendaknya orang itu tidak menetapkan sesuatu bagi dirinya sendiri, melainkan ia hendaknya mengikuti al jama’ah” (Hasyiah As Sindi, 1/509). Silakan simak artikel ini untuk pemaparan lebih lengkapnya.

Perselisihan bukan alasan untuk berbuat zhalim

‘Ala kulli haal, apapun perselisihan yang terjadi di antara kaum muslimin, tidak dibenarkan menjadikannya alasan untuk berbuat zhalim. Misalnya dalam masalah penentuan awal dan akhir Ramadhan, walaupun telah jelas kesalahan sebagian orang yang menggunakan metode hisab falaki, tetap tidak dibenarkan berbuat kezhaliman kepada orang-orang yang berpendapat demikian. Ataupun sebaliknya, orang-orang yang menggunakan metode hisab falaki pun tidak boleh berbuat zhalim kepada selainnya. Zhalim itu haram hukumnya. Allah Ta’ala berfirman:
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Allah tidak mencintai orang-orang yang zhalim” (QS. Al Imran: 57)
Allah Ta’ala juga berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
يا عبادي ! إني حرَّمتُ الظلمَ على نفسي وجعلتُه بينكم محرَّمًا . فلا تظَّالموا
Wahai hamba-Ku, Aku haramkan bagiku kezhaliman, dan juga telah Aku jadikan itu haram bagi kalian. Maka janganlah kalian saling berbuat zhalim” (HR. Muslim 2577).
Zhalim artinya menempatkan sesuai bukan pada tempatnya, berbuat sesuatu tanpa hak. Yang termasuk perbuatan zhalim terkait masalah ini diantaranya:
  • Berdebat kusir yang didasari fanatik golongan tanpa dasar ilmu agama
  • Saling mencela dan mencaci
  • Saling memboikot, tidak mau saling bicara, tidak mau saling bermuamalah
  • Saling bertengkar dan melukai
  • Atau bahkan saling mengkafirkan
Perselisihan, sebagaimana sudah dijelaskan, itu banyak dan banyak pula jenisnya. Ada perselisihan yang wajib ditoleransi masing-masing pendapatnya, ada pula perselisihan yang tidak bisa ditoleransi karena kebenarannya sudah jelas. Perselisihan pun bertingkat-tingkat level kesalahan dan tingkat pengingkarannya. Dan dalam semuanya itu tidak diperkenankan berbuat kezhaliman. Orang yang mempelajari ilmu agama dengan mendalam akan mengetahui bagaimana menyikapi suatu perselisihan dengan sikap yang benar dan porsi yang pas.
Hendaknya dalam perselisihan kita saling menasehati dengan mengedepankan kasih sayang, saling menginginkan kebaikan pada diri orang yang dinasehati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl:125)
Jangankan dalam perselisihan masalah hilal-hisab yang notabene merupakan syubhat dikalangan orang pada umumnya, bahkan terhadap perkara-pekara yang jelas kebenaran pun semisal menasehati orang-orang yang meninggalkan shalat, tidak mau memakai jilbab, sering melakukan kesyirikan, sering melakukan kebid’ahan kita tetap mengedepankan cara-cara yang santun, penuh kasih sayang, dan menginginkan kebaikan atas mereka. Bukan cara-cara kasar, sembrono, yang menimbulkan pertikaian atau kezhaliman.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
من أحب لله ، وأبغض لله ، وأعطى لله ، ومنع لله ، فقد استكمل الإيمان
Orang yang yang mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, memberi karena Allah, melarang sesuatu karena Allah, imannya telah sempurna” (HR. Abu Daud no. 4681, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)
Boleh jadi dalam satu sisi kita membenci saudara kita karena satu hal, namun di sisi lain banyak hal-hal lain yang menjadi alasan kita untuk mencintainya. Boleh jadi kita membenci saudara kita karena penyimpangan dan kemungkaran yang ia lakukan, namun kita masih memiliki porsi cinta terhadapnya karena ia beriman kepada Allah, karena ibadahnya kepada Allah, karena ketaatannya dalam hal lain kepada Allah.
Semoga apa yang sedikit ini bermanfaat, semoga kaum muslimin tetap bersatu padu dalam kebenaran, saling mendukung dan menjunjung satu sama lain. Saling menopang dan bertumpu bagaikan satu jasad.
مَثَلُ المُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَ تَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكىَ مِنْهُ عُضْوٌ تًَدَاعَى سَائِرُ الجَسَدِ.
Kaum mukminin itu dalam masalah cinta dan kasih sayang mereka bagaikan satu jasad, apabila salah satu anggota badan merasa sakit, maka seluruh badan merasakannya“ (HR Muslim 2586).
Wabillahit Taufiiq

Penulis: Yulian Purnama
Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Ilmu Komputer UGM, kontributor web PengusahaMuslim.Com
Artikel Muslim.Or.Id Add to Cart View detail

Jumat, 20 Juni 2014

Piala Dunia vs. Piala Akhirat

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada
Rasulullah.
Amma ba’du.
Tak terasa bulan Ramadhan semakin dekat menyapa. Tak terasa pula gegap-gempita piala dunia ada di ambang layar kaca. Keduanya menarik bagi para pengikutnya. Yang satu menuntun kepada surga, dan yang satu mengajak pada kepuasan semata.

Piala Dunia seolah menjadi perhelatan akbar yang tak boleh dilalaikan oleh para penggemar bola di segenap penjuru dunia. Setiap grup kebanggaan mereka menjadi simbol semangat dan perjuangan yang selalu dibela. Yel-yel suporter menggoncang stadion dan mendobrak jiwa jawara lapangan hijau.
Piala Dunia seolah mengubah jam-jam istirahat menjadi jam-jam sibuk dengan kopi, camilan, dan rokok yang setia menemani pemirsa dimana pun mereka berada. Tadarus pun harus ditunda, atau dibatalkan, atau diringkas seringkas-ringkasnya. Demi menyaksikan aksi striker idola dan penjaga gawang pujaan.
Sepak terjang wasit telah mengalahkan ustadz dan da’i yang mengisi ceramah dan tausiyah. Ocehan presenter pun lebih menarik daripada alunan suara imam dan mu’adzin yang membelah suasana dan menyejukkan jiwa. Bola yang menggelinding dan ditendang kesana-kemari seolah telah menjadi magnet berkekuatan dahsyat yang mampu menarik kelopak mata jutaan pemirsa sehingga lupa dari tidur dan istirahatnya.
Lapangan hijau telah menarik jutaan pasang mata untuk terus memantau siaran-siaran langsung atau kalau terpaksa ya siaran tunda, jauh lebih menarik dan lebih membuat menyala semangat daripada lembaran-lembaran mushaf atau buku-buku agama. Jebolan bola ke gawang telah menjadi pertunjukan luar biasa yang memalingkan orang dari berdzikir kepada Allah dan menghiasi lidah dengan taubat dan istighfar kepada-Nya.
Fenomena Piala Dunia, mungkin perlu menjadi bahan renungan kita bersama, sudahkah kita termasuk golongan orang yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Akan bisa merasakan manisnya iman orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang ketiganya ada pada dirinya maka dia akan merasakan manisnya iman; yaitu apabila Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya, dan tidaklah dia mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan dia benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan dirinya sebagaimana dia benci apabila dilemparkan ke dalam kobaran api/neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di sinilah kiranya cinta kita diuji dan diseleksi. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah manusia itu mengira dibiarkan berkata ‘kami beriman’ lalu mereka tidak diuji?” (QS. al-’Ankabut : 2)
Akankah kecintaan kita kepada bola mengalahkan kecintaan kita kepada semerbak pahala dan kemilau amal salih di bulan yang mulia… Allahul musta’aan.

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id Add to Cart View detail

Konsistensi, Kunci untuk Sukses Luar Biasa


Seberapa sering Anda berupaya tapi gagal? Bagaimana Anda menyikapinya? Mari kita merenung sejenak, untuk menjawab pertanyaan ini. Sebab, dari pertanyaan ini, sebenarnya kita bisa mulai mengukur kapasitas dan mentalitas diri, terutama dalam menghadapi kehidupan yang serba tak pasti.


Ya, ini adalah pertanyaan paling mendasar yang menentukan kita gagal atau sukses. Mengapa? Karena pada dasarnya tak ada orang sukses yang tak pernah gagal. Malah, banyak orang yang sangat sukses setelah berkali-kali gagal. Bahkan, jika digali lebih jauh lagi, hampir bisa dipastikan, tingkat kegagalan yang sudah pernah dialami mungkin banyak sekali. Lantas, bagaimana ia bisa bangkit dan sukses luar biasa? Di sinilah rahasianya: konsistensi.

Berkali-kali saya bertemu dengan pengusaha sangat sukses. Berkali-kali pula jika ditelusuri lebih jauh, mereka punya sikap dan kebiasaan yang—analogi sederhananya—“mirip” mesin. Ini sama sekali bukan sikap yang kaku atau cenderung monoton. Tapi, mesin yang saya ungkapkan adalah mesin yang bekerja rutin, konsisten, dan sesuai target. Dalam pengertian bahasa Jawa, ada sebuah ungkapan, yakni ajeg. Secara harfiah, kata ini mewakili konsistensi seseorang dalam melakukan suatu hal.

Jika Einstein pernah mengatakan, seseorang yang melakukan hal yang sama berkali-kali namun mengharapkan hasil yang berbeda adalah kegilaan, maka ajeg ini adalah “kegilaan” yang positif. Yakni, seseorang dengan tekad yang kuat, kemauan yang sangat bulat, lalu melakukan tindakan yang sangat konsisten terhadap apa yang diperjuangkan, secara terus-menerus, hingga ia benar-benar berhasil.

Bisa dikatakan, ajeg akan mengantarkan seseorang menjadi sangat fokus. Seperti David Beckham yang melatih terus-menerus tendangan bebas hingga bisa menembus blokade pemain lawan. Atau, seperti latihan Michael Jordan yang berlatih terus-menerus bagaimana ia bisa menembak ke ring dalam posisi apa pun.

Memang, semua itu kadang terlihat monoton. Bahkan, bisa jadi sangat membosankan. Harus melakukan hal yang sama terus-menerus. Tapi, justru di sana, sebenarnya kita sedang dilatih untuk benar-benar fokus pada tujuan. Sehingga, target apa pun yang kita canangkan, bisa kita taklukkan. Dengan latihan yang ajeg, Beckham bisa menemukan “celah” bagaimana cara menendang yang tepat sampai ke gawang sesuai yang diharapkan. Michael Jordan juga menyebut, dengan ke-ajeg-annya, ia jadi tahu, posisi apa yang paling pas untuk bisa memasukkan bola ke dalam ring.

Kembali ke soal ajeg-nya para tokoh sukses yang saya kenal. Hampir semua orang itu memiliki jadwal yang sangat terencana. Bangun jam sekian, melakukan evaluasi, bekerja, hingga melakukan refleksi tentang apa yang sedang, telah, dan belum tercapai hari itu. Begitu seterusnya. Mereka konsisten dengan apa yang dilakukannya saban hari.

Itu jugalah, mengapa tak banyak—bahkan bisa jadi hampir tidak ada—orang yang ahli dalam banyak bidang sekaligus. Sebab, justru dari ajeg-nya masing-masing orang dalam menekuni sebuah bidang, ia akan terus terasah, untuk kemudian berhasil melakukan banyak perbaikan dari kegagalan demi kegagalan yang dihadapi. Bill Gates dikenal dengan Microsoft-nya, meski ia sebenarnya juga mengeluarkan produk di luar merek tersebut. Ciputra sangat dikenal sebagai tokoh sukses di bidang properti, meski banyak pula bisnisnya yang lain. Atau, di bidang bisnis, kita mengenal Starbucks dengan kopinya, meski gerai kopinya juga menjual makanan. Begitu pula saat kita bicara Sosro, selalu yang paling kita ingat adalah teh botol, meski kini banyak pula minuman jenis lain yang diproduksinya. 

Hidup ini memang banyak pilihan. Tapi, tak semua memang bisa kita miliki. Karena itu, jika dihadapkan pada pilihan-pilihan, mari kita coba untuk memilih apa yang menurut kita hal yang paling penting untuk menentukan hidup. Lalu, jika sudah memutuskan, jadikan diri kita agar selalu ajeg dalam menekuninya. Dengan konsistensi dan ke-ajeg-an itu, kita akan menemukan banyak hal yang bisa diperbaiki, dievaluasi, dan dimaksimalkan. Sehingga, kita akan berada pada jalur yang tepat untuk menuju pada target yang telah kita tetapkan. Meski mungkin jalannya sangat pelan atau berat, konsistensi dalam perjuangan akan membuat kita lebih dekat dengan sukses yang kita dambakan.

Salam sukses luar biasa!

Sumber : andriewongso.com Add to Cart View detail

Wirausaha Modal Minimalis dan Gaya Berdagang Rasulullah

Memulai usaha tak harus memiliki modal yang besar, punya keahlian tertentu, memiliki kantor sendiri, dan peralatan pendukung yang relatif cukup. Semua itu tergantung kemauan Anda. Modal utama memulai usaha adalah niat, keteguhan hati, dan sikap pantang menyerah untuk menjalankan usaha.

Sikap inilah yang tidak dimiliki oleh setiap orang yang ingin menjalankan usaha. Wajar jika mereka tidak pernah menjalankan usahanya karena merasa belum cukup modal dan berbagai kekhawatiran lain yang mereka ciptakan sendiri. Sementara, orang-orang yang berani, mereka memulai usaha dengan cara sederhana dan biaya murah, tanpa pernah takut gagal. Sulitnya mencari pekerjaan saat ini dan tingginya jumlah pengangguran di Indonesia mengharuskan setiap orang untuk kreatif menciptakan pekerjaan demi dirinya, keluarga, dan orang-orang yang dicintainya. Jika tidak kreatif,
jangan harap Anda bisa bertahan hidup di tengah kompetisi kehidupan yang makin sulit ini.
Bayangkan, berdasarkan data dari BPS 2009, pengangguran untuk kelompok lulusan universitas mencapai 4,66 juta. Tahun 2010 dan 2011 belum diketahui secara pasti berapa angka kenaikan maupun penurunannya. 
Banyak cara menjadi pengusaha. Umumnya, orang yang kreatif dan memiliki semangat untuk berwirausaha akan mencari cara agar bisa memulai usaha dengan modal minimalis. Banyak orang yang mengindentikkan istilah modal miminalis ini dengan modal dengkul. Kedua istilah itu memiliki
makna yang sama yakni modal minimal. Robert T. Kiyosaki, investor, usahawan, penulis buku Rich Dad, Poor Dad, Rich Dad’s Cashflow Quadrant, dan Rich Dad’s Guide to Investing, menggambarkan situasi setiap orang dalam konsep cashflow kuadran. Ia membagi 4 kategori atau kuadran,yakni E (Employee atau pekerja), S (Selfemployed atau punya usaha sendiri), B (Bussiness Owner atau pengusaha), I (Investor). Orang yang berada di kuadran B dan I adalah orang yang mempunyai kebebasan atau freedom, bebas menggunakan waktunya. Sementara orang berada di kuadran E dan S belum memiliki kebebasan.
Nah, setiap orang tentunya mengharapkan bisa berada di kuadran B dan I atau kuadran kanan. Lalu
bagaimana caranya? Untuk sukses dalam menjalan usaha kita harus memiliki mindset (pola pikir) sukses.
Dalam buku “Untung Besar Modal Rp 2 Juta”, oleh Penerbit Indonesia Cerdas Yogyakarta, disebutkan 10 langkah untuk memulai usaha yakni :
1. Menyiapkan mental menjadi pengusaha
Anda harus mengetahui ciri seorang pengusaha. Pengusaha berbeda dengan karyawan. Jika karyawan cenderung segera menghabiskan gaji bulanannya, maka pengusaha tidak. Seorang pengusaha akan menginvestasikan kembali sebagian penghasilkannya untuk
mengembangkan usahanya.
2. Memiliki visi dan misi jelas 
Anda harus mengetahui visi dan misi dalam berbisnis. Visi dan misi
itu bisa menjadi panduan Anda untuk melangkah.
3. Bisnis itu gampang 
Anda harus memiliki pemikiran yang simpel, karena jika pikiran Anda terlalu berbelit dan rumit maka bisnis yang akan Anda terjuni juga akan rumit.
4. Jangan takut permodalan
Modal acapkali dikeluhkan para calon pengusaha, mereka gusar karena kesulitan modal. Anda tak perlu risau karena modal bisa diusahakan melalui bekerjasama dengan saudara, teman dan orang lain.
5. Tempat strategis
Urusan tempat memang ribet, namun ini penting karena tempat yang strategis akan ikut menentukan keberhasilan usaha Anda.
6. Siap buka usaha
Meskipun Anda baru memulai usaha ini tak perlu risau dan berkecil hati. Anda bisa mencari mentor yang berpengalaman caranya dengan mengikuti komunitas-komunitas pengusaha.
7. Manajemen risiko
Anda harus ingat sejak awal semua usaha berkait erat dengan risiko. Semakin usaha Anda maju dan
dikenal luas maka nama Anda juga dipertaruhkan.
8. Cerdas menyikapi kegagalan
Anda harus menyikapi kegagalan dengan sabar dan hati lapang. Jika gagal Anda perlu bergerak cepat untuk bangkit.
9. Cerdas memperlakukan laba
Laba yang Anda peroleh perlu di manage dengan baik. Jangan menghambur-hamburkan uang (laba)
untuk keperluan yang tidak berguna. Ingat Anda seorang pengusaha perlu berfikir matang untuk mengembangkan
usaha.
10. Asah kreatifitas dan kejelian
Jika bisnis Anda laris manis itulah buah dari kerja keras Anda. Meskipun demikian tak perlu terlalu cepat merasa puas. Rajinlah mengasah kreatifitas. Ingatlah persaingan usaha makin banyak sehingga dibutuhkan kreatifitas dan kejelian Anda.
 
Gaya Rasulullah  BerBisnis 
Berkaitan dengan usaha dan perniagaan ini, Islam menganjurkan umatnya untuk berniaga, karena
berniaga merupakan pintu rezeki, seperti sabda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan” (HR. Ahmad)
Nah, dalam hidup ini berwirausaha dan beriktiar dianjurkan dalam Islam, seperti firman Allah Ta’ala, “...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...” (Q.S. Ar-Ra’d 13 :11)
Dalam beriktiar untuk memulai usaha kita juga tidak perlu takut gagal. Ingatlah firman Allah Ta’ala, “Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya
pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak
(pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. Al- Baqarah 2:112)
Agar usahanya berhasil dibutuhkan perjuangan yang panjang. Proses usaha ini membutuhkan  kesiapan kita untuk menghadapinya agar tidak sedih atau stres ketika usaha kita bangkrut. Kita harus senantiasa berzikir dan berdoa kepada Allah Ta’ala. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati  mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(Q.S. Ar-Ra’d 13:28).
Cara kita menyiasati berwirausaha
selain menggunakan modal sendiri juga bekerjasama dengan orang lain dalam menjalankan usaha bersama. Konsep bekerjasama dengan orang lain ini dikenal dengan nama syirkah. Kata syirkah dalam bahasa Arab berasal dari kata syarika artinya menjadi sekutu atau serikat (Kamus al-Munawwir, halaman. 765). Menurut arti asli Bahasa Arab (makna etimologis), syirkah berarti mencampurkan dua bagian atau lebih sedemikian rupa sehingga tidak dapat lagi dibedakan satu bagian dengan bagian lainnya (An-Nabhani, 1990: 146). Adapun menurut makna syariat, syirkah
adalah suatu akad antara dua pihak atau lebih, yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan. (An-Nabhani, 1990: 146).
Syirkah atau musyarakah adalah bentuk umum dari usaha bagi hasil dimana dua orang atau lebih
menyumbangkan pembiayaan dan manajemen usaha, dengan proporsi bisa sama atau tidak. Keuntungan dibagi sesuai kesepakatan antara para mitra, dan kerugian akan dibagikan menurut
proporsi modal. Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerjasama untuk meningkatkan nilai asset yang mereka miliki secara bersama-sama dengan memadukan seluruh sumber daya. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sosok wirausahawan yang tangguh dan perlu diteladani. Ia sejak kecil dirawat kakeknya Abdul Muthalib, seorang pebisnis. Setelah kakeknya meninggal, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tinggal bersama pamannya Abu Thalib yang berprofesi dalam bisnis perdagangan pula. Sebagai anak muda yang lembut hati
dan memiliki harga diri yang tinggi, beliau sama sekali tidak suka berlamalama menjadi tanggungan sang paman. Ketika menginjak semakin dewasa dan menyadari bahwa pamannya memiliki beban berat keluarga besar yang harus diberi nafkah, beliau mulai berdagang sendiri di Makkah. Profesi sebagai pebisnis ini dimulai dalam skala yang kecil dan bersifat pribadi. Beliau membeli barang-barang dari satu pasar lalu menjualnya pada orang lain. Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang pemuda miskin yang memulai bisnisnya dari tahap awal. Ia terkadang bekerja untuk
mendapatkan upah dan terkadang sebagai agen untuk beberapa pebisnis kaya di kota Makkah.
Dalam mencari nafkah yang halal beliau bekerja keras, sungguh-sungguh dan cermat menggeluti profesi bisnis ini yang tentunya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup tetapi juga membangun reputasi dimata para pemodal, relasi dan pelanggan. Beliau juga telah memasuki kerjasama bisnis bersama dengan beberapa orang. Sebagai pribadi yang dikenal jujur (shidiq) dan terpercaya (amin) oleh masyarakat, beliau memiliki kesempatan untuk mengembangkan bisnisnya
dengan menjalankan modal orang lain. Di antaranya menerima modal dari para janda dan anak yatim dengan sistim upah maupun bagi hasil. Beliau juga pernah bermitra dengan Saib ibnu Ali yang pernah menyatakan dan mengakui bahwa Muhammad adalah mitranya dalam berdagang dan selalu lurus dalam perhitunganperhitungannya. Salah satu dari mitra pemodal lainnya adalah Khadijah, salah seorang konglomerat kaya di masa itu. Muhammad menjalankan kontrak syirkah (kerjasama) dengan sistim upah maupun bagi hasil (mudharabah) dengan Khadijah. Kadang-kadang dalam  kontraknya Muhammad sebagai pengelola (mudharib) dan Khadijah sebagai sleeping partner(shahibul maal) dan sama-sama berbagi atas keuntungan maupun kerugian. Terkadang pula Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi pebisnis yang digaji dan mendapatkan upah untuk mengelola barang dagangan Khadijah. Di antaranya Khadijah pernah mempercayakan kepadanya modal untuk bertolak ke Syiria. Dalam masa usia 17 hingga sekitar 20 tahun adalah masa tersulit dalam perjalanan bisnis Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau harus mandiri dan bersaing dengan pemainpemain senior dalam perdagangan regional. Muhammad shalallahu ‘alaihi wa
sallam kemudian banyak melakukan perjalanan-pejalanan bisnis dengan modal Khadijah ini. Beliaupun telah sering mengunjungi Bahrain dalam rangkaian lawatan bisnis. Beliau adalah seorang saudagar ulung. Beliau pernah mendapatkan imbalan seekor unta muda untuk setiap kali perjalanan ke kota-kota dagang di sekitar Yaman. Ketekunan dan kesungguhan beliau dalam berbisnis juga  sangat menonjol. Beliau pernah menunggu pembelinya, Abdullah bin Abdul Hamzah selama tiga hari. Abdullah bin Abdul Hamzah mengatakan: “Aku telah membeli sesuatu dari Nabi sebelum beliau menerima tugas kenabian, dan karena masih ada suatu urusan dengannya maka menjanjikan untuk mengantarkan padanya, tetapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, aku pun pergi ke tempat tersebut dan menemukan Nabi masih berada di sana “. Nabi berkata, “Engkau telah membuatku resah, aku berada di sini selama tiga hari menunggumu” (HR. Abu Dawud).
Sebuah kesabaran dan pengorbanan yang luar biasa untuk tidak membuat relasi atau pelanggan (customer) kecewa. Tidak pula lantas marah, kecuali hanya menyampaikan bahwa telah menunggu
tiga hari. Setelah menikah dengan Khadijah, beliau tetap melangsungkan bisnis perdagangan seperti biasa. Membawa dagangannya ke berbagai daerah di semenanjung Arabia dan negeri-negeri perbatasan Yaman, Bahrain, Irak dan Syiria.
Karier bisnis Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam semakin kuat dalam usia 25 tahun. Usia ini merupakan titik keemasan entrepreneurship Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam setelah mendapatkan back-up financial yang lebih mapan dari sang istri Khadijah yang telah dinikahi.
Hal yang perlu diteladani dari sikap Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjalankan usahanya adalah, sidiq (benar), amanah (dapat dipercaya), fatonah (cerdas, cerdik, memahami manajemen dan strategi bisnis), dan tabligh (kemampuan komunikasi dan meyakinkan relasi atau pembeli). Bila keempat sifat atau kiat ini ada pada seorang pebisnis, insya Allah dia
akan berhasil. Ini merupakan karakter bisnis yang Islami. Semoga sajian ini bermanfaat bagi pembaca. (Sulistyo Budi Nurcahyo).
Add to Cart View detail

Agenda Rutin LDK


Bsmillah,
Alhamdulillah sebagai mahasiswa - mahasiswi yang senantiasa menyibukkan diri dengan belajar ilmu-ilmu komputer setelah ditambah dengan kerja keras menjemput rezeki yang telah Allah sediakan di ladang rezeki masing - masing. Kami LDK Riskina sebagai penyalur / tempat untuk bersosialisasi, menambah ilmu agama dan public speaking di Kampus IKMI Riskina Cikarang senantiasa mengadakan agenda rutin dan agenda kami yang lain yang telah ditetapkan dalam Program Kerja LDK. Harapan kami semoga forum yang kami bangun ini bisa memberikan manfaat sebesar-besanya khususnya bagi mahasiswa/i IKMI Riskina guna menambah berbagai ilmu, khususnya ilmu agama sebagai kewajiban kita sebagai muslim tuk mencari ilmu sebagai bekal kita memperbaiki kualitas tujuan hidup kita yakni beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Mari bersama manfaatkan forum ini tuk bisa saling mengisi, menebar manfaat antar sesama mahasiswa/i dan memperkuat ukhuwah kita antar angkatan dan jurusan di kampus IKMI Riskina

Salam Ukhuwah

Admin
Luqmanul Hakim Add to Cart View detail

Selasa, 17 Juni 2014

Kiat-Kiat Prima di Bulan Mulia

Oleh : dr. Raehanul Bahraen

Alhamdullillah, kita berjumpa lagi dengan bulan Mulia yang penuh barakah, bulan Ramadhan. Bulan yang sudah selayaknya seorang muslim merasa rindu untuk selalu ingin berjumpa dengan bulan ini. Sebagian ulama mengatakan, “Para salaf biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6 bulan sisanya mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima”. (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 369)


Di negara kita selama bulan Ramadhan, aktivitas tetap berjalan sebagaimana biasanya, jadwal tetap padat dan tidak ada pengurangan jam kerja atau pengurangan beban kerja. Bulan Ramadhan bisa dikatakan sama dengan bulan yang lainnya. Oleh karena itu kita perlu tetap menjaga kesehatan dan stamina, terutama ketika awal-awal puasa, di mana badan masih butuh penyesuaian.
Berikut beberapa kiat-kiat agar kita tetap fit dan prima selama bulan Ramadhan :

1.Makan sahur
Makan sahur jelas memberikan kekuatan kepada kita, terutama hari-hari pertama puasa. Tubuh mungkin belum biasa tidak mendapatkan asupan makanan selama 14 jam. Makan sahur juga merupakan anjuran syariat karena terdapat berkah padanya. Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحّرُوا فَإِنّ ى ف السّحُورِ بَرَكَةًَََِ
 
“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (Muttafaqun ‘alaih)
Untuk menu sahur sebaiknya kita pilih makanan yang mengandung protein tinggi dan berserat. Perlu kita hindari juga makanan yang terlalu manis karena bisa memacu pengeluaran insulin yang tinggi sehingga bisa membuat agak lemah. Makanan sederhana sudah cukup, yang penting tercukupi lima unsur gizi komplit seperti lemak, protein, vitamin, karbohidrat, dan mineral.
Makanan berserat seperti buah dan sayuran berguna untuk menahan rasa lapar, apalagi pada awal-awal puasa, di mana tubuh belum menyesuaikan penuh. Pencernaan butuh waktu agak lama untuk mencerna serat sehingga rasa lapar tidak muncul dengan segera.
Adapun makanan yang terlalu manis seperti sirup, es buah dan kolak manis, jika terlalu banyak dikonsumsi, akan membuat kita cepat lapar. Makanan yang manis membuat tubuh memproduksi insulin lebih banyak, sedangkan fungsi insulin adalah memasukkan gula dari darah ke sel sebagai sumber energi. Jika insulin banyak dan melimpah, maka gula darah masuk semua ke dalam sel dan kadarnya di darah menjadi rendah. Rendahnya kadar gula darah membuat respon tubuh mengaktifkan rasa lapar. Sedangkan makanan berserat membuat proses pencernaan lebih lambat sehingga insulin dikeluarkan secara bertahap.
Ketika makan sahur kita juga jangan lupa agar minum air yang cukup. Sehingga kita tidak mengalami dehidrasi. Bahkan ada yang mengatakan “saya lebih kuat sahur hanya minum air yang banyak saja daripada makan sahur tetapi kurang minum”. Ya, karena air merupakan zat yang sangat dibutuhkan tubuh. Lebih dari 60 % tubuh kita terdiri dari air. Organ tubuh dalam menjalankan fungsinya membutuhkan air. Ketika air tidak cukup, maka kerja organ tidak maksimal. Minum air di sini bukan hanya minum air putih, tetapi susu, sirup dan teh juga termasuk cairan. Kita perlu mengatur agar kebutuhan air cukup yaitu minum delapan gelas air (sekitar dua liter) per hari. Caranya Anda bisa menunggu waktu adzan subuh sambil memagang beberapa gelas dengan persediaan air minum. Anda bisa meminum perlahan-lahan sambil menunggu waktu adzan subuh, atau di sela-sela membaca Al-Quran ketika menunggu waktu subuh.

2.Mengakhirkan sahur.
Agar tenaga dan energi lebih tahan lama, maka sebaiknya kita makan sahur di ujung waktunya atau mendekati subuh. Hal ini juga merupakan perintah syariat. ‘Amr bin Maimun Al-Audi berkata,

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَ ى لَ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَ ر سَعَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُمْ سَحُوْرًا
 
Dahulu para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling lambat sahuur.” (HR. Abdurrozaq di dalam Al-Mushannaf, shahih)

3. Sebaiknya hindari tidur langsung setelah subuh.
Ada beberapa orang yang memiliki kebiasan seperti ini. Setelah makan sahur dan shalat subuh langsung tidur lagi. Ini kebiasaan yang kurang baik, karena membuat tubuh tidak segar ketika bangaun dan juga kebiasaan tidur langsung setelah shalat subuh tidak baik bagi kesehatan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

وَنَوْمُ الصُّبْحَةِ يم يْمنَعُ الرِّزْقَ؛ لأ لأنََّ ذَلِكَ وَقْتٌ تَطْلُبُ فِيهِ الْخَلِيقَةُ أَرْزَاقَهَا، وَهُوَ وَقْتُ قِسْمَةِ ا لأ لأرَْزَاقِ، فَنَوْمُهُ حِرْمَانٌ إِ لا لَا لِعَارِضٍ أَوْ ر ضُورَةٍ، وَهُوَ مُ ر ضٌّ جِدًّا بِالْبَدَنِ لإ لإرِْخَائِهِ الْبَدَنَ وَإِفْسَادِهِ لِلْفَضَ لا لاتِ الَّتِي يَنْبَغِي تَحْلِيلُهَا بِالرِّيَاضَةِ

“Tidur setelah subuh mencegah rezeki, karena waktu subuh adalah waktu mahluk mencari rezeki mereka dan waktu dibagikannya rezeki. Tidur setelah subuh suatu hal yang dilarang (makruh) keculai ada penyebab atau keperluan. Sangat berbahaya bagi badan karena melemahkan dan merusak badan karena sisa-sisa (metabolisme) yang seharusnya diurai dengan berolahraga/beraktifitas” (Zadul Ma’ad 4/222)
Selain itu waktu subuh merupakan waktu yang berkah, tentu bertambah berkah pada bulan Ramadhan yang pebuh berkah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى ى ف بُكُورِهَاِ
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud, shahih)

Berikut beberapa tips kita agar kita tidak langsung tidur setelah shalat subuh:
1. Makan sahur jangan terlalu tengah malam, jarak yang jauh dengan waktu shalat subuh membuat kita mengantuk, apalagi setelah makan sahur.
2. Mengisi kegiatan setelah subuh yang melibatkan banyak orang, misalnya pengajian di masjid atau membaca Al-Quran.
3. Jangan makan sahur terlalu banyak.
 
4. Menyegerakan berbuka
Setelah seharian beraktifitas dengan perut kosong dan tidak terisi, sebaiknya ketika adzan magrib dikumandangkan, kita bersegera berbuka dan tidak menunda-nunda. Maka energi akan langsung terisi kembali dan badan segera kembali terasa segar. Hal ini juga merupakan anjuran syariat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا لا يَزَالُ اَلنَّاسُ بِخَ ر يٍ مَا عَجَّلُوا اَلْفِطْرَََْ
“Terus-menerus manusia berada dalama kebaikan selama mereka masih menyegerakan buka puasa.” (Muttafaqun ‘alaihi)
 
5. Berbuka dengan yang manis dan makan secara bertahap
Untuk segera memulihkan tenaga, sebaiknya kita makan dengan makanan yang mengandung karbohidrat sederhana yang terdapat pada makanan yang manis. Makanan yang manis dengan karbihidrat sederhana bisa mengembalikan energi dengan cepat karena karbohidrat yang sederhana tidak perlu dicerna dalam waktu yang lama sehingga energinya langsung diserap oleh tubuh.
Lebih baik lagi kita berbuka dengan kurma. Sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan ruthob (kurma basah), jika tidak ada, dengan tamr (kurma kering), jika tidak ada, beliau meneguk beberapa teguk air.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, shahih)
Dan menurut penelitian, kurma mengandung fruktosa dan glukosa yang tinggi sampai 70% dan bentuknya berupa monoglukosa yang tidak perlu dicerna lagi sehingga langsung diserap oleh tubuh. Jika tidak ada kurma, maka bisa dengan manis lagi hangat seperti kolak. Bagi anda yang memiliki masalah pencernaan misalnya memiliki maag, sebaiknya hindari berbuka dengan air dingin atau es, begitu juga hindari minuman bersoda karena bisa membuat kembung perut dan meningkatkan asam lambung.
Kita juga perlu berhati-hati dengan minuman yang mengandung pemanis buatan. Karena pemanis buatan tidak mengandung energi. Biasanya terdapat  pada sirup atau es buah yang dijual di pinggir jalan atau produk-produk siap konsumsi.
Ketika berbuka juga sebaiknya kita makan bertahap, jangan langsung makan besar sebagai ajang balas dendam. Makan perlahan dan beri jarak kurang lebih setengah atau satu jam. Bisa diatur ketika berbuka mungkin kita hanya makan kolak saja, atau makan beberapa kurma saja atau makan beberapa suap nasi. Kemudian setelah shalat magrib baru kita makan lagi dan setelah shalat tarawih kita bisa makan makanan ringan seperti kue dan snack. Hal ini berguna agar pencernaan tidak kaget dan bekerja dengan berat. Selain itu makanan yang masuk dengan banyak secara tiba-tiba akan membuat produksi insulin agak tinggi sehingga gula yang sedikit didarah makin tambah sedikit karena dimasukkan oleh insulin ke dalam sel. Akibatnya tubuh menjadi lemah, badan uring-uringan bahkan maunya tidur terus.
 
6. Jangan bermalas-malasan dan tetap berolahraga
Jangan kita kurangi secara total aktifitas kita hanya karena alasan berpuasa. Kemudian kita bermalas-malasan, banyak tidur, berbaring-baring sambil menunggu waktu berbuka. Akan tetapi kita tetap melaksanakaan aktivitas kita seperti biasa. Ketika beraktivitas selama puasa justru dapat merangsang pengeluaran hormon-hormon anti insulin yang berfungsi melepas gula darah dari simpanan energi, sehingga kadar gula darah tidak menurun dan pada akhirnya tubuh tetap segar bugar sepanjang hari.
Puasa juga tidak menghalangi kita melakukan olahraga, jika sudah biasa melakukan olahraga pagi, maka lakukan olahraga ringan seperti lari-lari kecil atau gerakan senam ringan. Jika ingin berolahraga yang agak berat misalnya hobi bermain futsal atau badiminton, maka lakukan pada sore hari menjelang berbuka atau dilakukan pada malam hari setelah shalat tarawih.
 
7.Tidur yang cukup
Tidur membuat tubuh kita dapat beristirahat dan sel-sel bisa mengembalikan fungsi tubuh yang digunakan seharian. Setiap orang berbeda-beda kebutuhan tidurnya, secara umum orang dewasa kebutuhan tidurnya 4-8 jam. Yang terpenting dari tidur adalah kualitasnya bukan kuantitasnya. Tidur dengan pulas dan nyenyak selama 30 menit lebih baik daripada tidur lama tetapi tidak nyenyak.
Ketika bulan ramadhan maka kita banyak menghabiskan waktu malam untuk beribadah, membaca Al-Quran, shalat tarawih, serta berdzikir dan berdoa. Maka hendaknya kita juga tidur siang untuk memenuhi kebutuhan tidur.
Ketika bulan ramadhan maka kita banyak menghabiskan waktu malam untuk beribadah, membaca Al-Quran, shalat tarawih, serta berdzikir dan berdoa. Maka hendaknya kita juga tidur siang untuk memenuhi kebutuhan tidur. Tidur siang juga merupakan sunnah dan anjuran dalam syariat, inilah yang disebut “qailulah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
قِيْلُوا فَإِنّ الشّيَاطِ ن يَ لاَ تَقِيْلََُْ
“Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, shahih)
 
8. Mandi dan menyegarkan diri
Agar segar, kita mandi dan menggosok gigi. Dalam suatu riwayat Rasulullah pernah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuangkan air pada kepalanya, sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa, karena haus atau panas yang menyengat. Jika terasa lemah dan tidak bertenaga, kita bisa mandi atau mandi lebih dari dua kali sehari misalnya pada saat siang bolong yang panas.
Agar kita tetap segar juga, hindari terlalu lama dalam ruangan be-AC. Karena ruangan ber-Ac membuat tubuh kita kekurangan cairan dan mulut akan terasa kering. Aturlah suhu ruangan dan aturlah keluar masuk di ruangan ber-AC
 
9.Mengendalikan emosi dan nafsu
Ibadah puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga tetapi juga menahan emosi dan nafsu. Psikologis kita memiliki pengaruh terhadap fisik kita. Ketika kita marah dan stress maka hormon stress seperti adrenalin akan dikeluarkan tubuh dan mengeluarkan energi yang banyak. Belum lagi akan mengacaukan sistem yang lainnya akibat hormon stress.
Semoga kiat-kiat di atas dapat membantu menjaga stamina tubuh kita di bulan mulia sehingga kita bisa maksimal.

Sumber : kesehatanmuslim.com

Add to Cart View detail

Most View Product

Contact Online

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. TOKO SEPATU & SERVER PULSA "ANIS" TEGAL - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger